kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.080   20,00   0,11%
  • IDX 5.388   59,54   1,12%
  • KOMPAS100 697   10,48   1,53%
  • LQ45 545   8,81   1,64%
  • ISSI 183   1,92   1,06%
  • IDX30 305   4,36   1,45%
  • IDXHIDIV20 400   6,31   1,60%
  • IDX80 80   1,24   1,57%
  • IDXV30 111   1,31   1,20%
  • IDXQ30 101   1,89   1,91%

Operator Pelabuhan Hadapi Kendala Konsesi, Prospek Pertumbuhan Tetap Terbuka


Kamis, 22 Oktober 2026 / 21:25 WIB
Operator Pelabuhan Hadapi Kendala Konsesi, Prospek Pertumbuhan Tetap Terbuka
ILUSTRASI. PORT Bersiap Hadapi Lonjakan Bongkar Muat Akhir Tahun (Dok/PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk atau PORT)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri operator pelabuhan nasional menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kendala regulasi konsesi, fluktuasi permintaan logistik, hingga kenaikan biaya operasional. 

Meski demikian, pelaku usaha masih melihat peluang pertumbuhan seiring kebutuhan transportasi laut dan distribusi barang, dengan mengandalkan efisiensi serta pengembangan layanan.

Ketua Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) Liana Trisnawati mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi pelaku usaha adalah regulasi terkait konsesi untuk menjadi terminal umum. Persoalan ini turut menyulitkan upaya operator pelabuhan menarik investasi dari dalam maupun luar negeri.

“Tidak mudah untuk bisa mendapatkan konsesi menjadi terminal umum. Dan yang kedua, untuk mengundang investor dalam negeri maupun luar negeri pun juga kami sekarang ini masih terkendala,” ujar Liana saat diskusi di forum Allpack Indonesia, Kamis (22/10).

Baca Juga: Investasi Hulu Migas Capai Rp 179,2 Triliun hingga Agustus 2026

Menurut Liana, tantangan tersebut berlangsung di tengah kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi sektor pelabuhan, logistik, dan pelayaran. Karena itu, pelaku usaha perlu memperkuat ekosistem bisnis dengan menghubungkan aktivitas pelabuhan dan kawasan industri di wilayah penyangga atau hinterland.

Digitalisasi juga menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan efisiensi operasional. Liana menilai, pengembangan bisnis kepelabuhanan perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri di daerah agar dapat menciptakan permintaan jasa logistik yang berkelanjutan.

“Dan kita sekarang juga harus lebih adaptif dengan ekosistem. Kita harus menciptakan ekosistem yang ada di pelabuhan, hinterland yang ada di pelabuhan. Dan yang paling penting, kita sekarang ini meminimise apapun dengan digitalisasi,” katanya.

Dari sisi prospek, Liana menilai industri kepelabuhanan masih memiliki peluang seiring dorongan pemerintah untuk meningkatkan penggunaan transportasi laut. Namun, peningkatan kapasitas infrastruktur tetap diperlukan untuk menunjang kelancaran arus kapal dan barang.

Ia mencontohkan kondisi Pelabuhan Belawan yang mengalami pendangkalan sehingga kapal harus mengantre dan tidak dapat masuk dengan leluasa. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur pelabuhan untuk mendukung aktivitas logistik.

"Outlook ABUPI cukup positif. Karena pemerintah sendiri sekarang sedang mendorong seluruh transportasi menggunakan laut. Kami masih kekurangan kapal. Kami masih perlu pelabuhan-pelabuhan," sambungnya.

Sementara itu, Widagdo Pradono Siwi Kepala Bidang Aksesibilitas Perizinan menjelaskan Pertumbuhan industri kepelabuhanan nasional ditopang oleh perluasan infrastruktur serta peningkatan kapasitas layanan di berbagai simpul logistik penting.

Menurutnya, pertumbuhan ini direalisasikan melalui beberapa faktor. Di antaranya Pengembangan Wilayah dan Terminal Baru dan peningkatan kapasitas cargo. 

"Peluang di sektor kepelabuhanan terbuka sangat lebar, terutama dengan dukungan regulasi skema kerja sama pemerintah dan swasta," tegasnya.

Sementara itu, President Director PT Pelabuhan Tegar Indonesia mengatakan, kinerja operator pelabuhan sangat bergantung pada aktivitas industri dan kebutuhan masyarakat. Ketika permintaan meningkat, kebutuhan jasa maritim dan logistik ikut bertambah. Sebaliknya, perlambatan ekonomi berpotensi menekan permintaan layanan.

Baca Juga: Buka Peluang Ekspansi, Komodo Water Bangun Inovasi Energi Biru Terbarukan

“Ketika demand dari industri atau populasi meningkat, berarti kebutuhan akan jasa maritim dan logistik itu juga naik. Tapi ketika demand-nya, terutama ketika ekonominya sedang kontraksi dan demand-nya menurun, ya pastinya akan langsung berpengaruh ke kita,” ujarnya.

Selain permintaan, cuaca menjadi faktor lain yang memengaruhi operasional perusahaan karena dapat membuat jadwal kedatangan kapal sulit diprediksi. Gangguan pada sumber muatan, terutama bahan baku dari sektor ekstraksi sumber daya alam dan hasil hutan, juga berpotensi memengaruhi kinerja.

Menghadapi kondisi tersebut, PT Pelabuhan Tegar Indonesia memilih bersikap fleksibel dan adaptif. Perusahaan juga menahan sementara sejumlah rencana yang membutuhkan investasi besar, sembari mengoptimalkan kegiatan bisnis yang berjalan.

Meski menghadapi tantangan, perusahaan tetap mempertahankan anggaran 2026 yang telah ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Target pertumbuhan perusahaan pada tahun ini disebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Target pertumbuhan kita 2026 ini dibandingkan tahun lalu sebenarnya lumayan tinggi. Single digit lebih tinggi dari pertumbuhan GDP pemerintah,” katanya.

Ia menambahkan, aktivitas di sektor energi dan bahan baku industri makanan menjadi salah satu penopang bisnis perusahaan. Perubahan nilai tukar juga memengaruhi kinerja, bergantung pada komposisi barang ekspor dan impor yang ditangani.

Di tengah tekanan biaya operasional, PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) juga mengandalkan efisiensi untuk menjaga pencapaian target bisnis. Finance Manager KBS mengatakan, perusahaan masih optimistis mencapai target kinerja 2026 sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan.

Untuk 2027, KBS menargetkan pertumbuhan sekitar 10%. Perusahaan juga mengevaluasi kinerja dan menjajaki pasar baru melalui pengembangan sejumlah layanan logistik.

“Untuk tahun 2027 juga kita masih tetap optimis di pertumbuhan sekitar 10%. Dan ini terus kita melakukan evaluasi kinerja sampai dengan peningkatan pasar yang baru,” ujarnya.

Adapun pengembangan bisnis yang disiapkan mencakup layanan roll-on/roll-off (RoRo), kontainer, isotank, dan cold chain. KBS juga mengembangkan bisnis di Cikarang untuk memperluas layanan dan menangkap peluang dari kebutuhan logistik kawasan industri.

Namun, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi tantangan dalam menjaga efisiensi. Kenaikan biaya energi berpotensi menambah beban operasional, sehingga perusahaan perlu mengoptimalkan penggunaan peralatan dan waktu pelayanan.

“Contoh misalnya penggunaan alat berat, ini kita coba lakukan penghitungan ulang. Dari misalnya satu pelayanan delapan jam, kita turunkan menjadi sampai dengan lima sampai tujuh jam. Sehingga itulah efisiensi yang kami lakukan dalam rangka untuk mencapai target bottom line, yaitu laba,” katanya.

Selain efisiensi, KBS melihat peluang pertumbuhan dari peningkatan volume kargo. Dalam tiga hingga lima tahun terakhir, volume bongkar muat perusahaan rata-rata mencapai 18 juta ton hingga 19 juta ton per tahun.

Ke depan, perusahaan memperkirakan volume bongkar muat berpotensi melampaui 20 juta ton seiring peningkatan kapasitas produksi di kawasan industri Cilegon, termasuk dari perusahaan patungan Krakatau Steel, Krakatau Posco.

“Dan kami yakin ke depannya kargo yang dibongkar di KBS akan terus meningkat, seperti itu. Mungkin di atas 20 juta ton. Dan ini memang saat ini KBS sedang menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan dalam rangka untuk pembongkaran kargo-kargo tersebut,” ujar dia.

Di luar tantangan yang dihadapi masing-masing operator, efisiensi biaya logistik nasional masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri kepelabuhanan. 

Dalam materi yang merujuk paparan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), rasio biaya logistik Indonesia terhadap produk domestik bruto tercatat sebesar 14,3% pada 2025. 

Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan kisaran 7,5% hingga 10% di sejumlah negara ASEAN dan negara maju.

Kepala Bidang Aksesibilitas Perizinan Widagdo Pradono Siwi dalam materi mengenai industri kepelabuhanan menyoroti pentingnya peningkatan konektivitas, kapasitas infrastruktur, dan integrasi rantai pasok untuk menekan biaya logistik.

Baca Juga: Pasar Produk Ibu dan Anak Kian Memikat, Persaingan Kian Ketat

Peluang investasi di sektor ini antara lain terbuka melalui pengembangan terminal, kerja sama pemanfaatan infrastruktur, serta integrasi pelabuhan dengan jaringan kereta api, jalan tol, dan dry port. 

Namun, industri masih menghadapi tantangan berupa ketidakseimbangan kapasitas, ketidaksinkronan jadwal kapal dengan kesiapan terminal, kendala distribusi last-mile, dan belum meratanya digitalisasi.

Dengan demikian, prospek industri operator pelabuhan masih ditopang kebutuhan distribusi barang, pengembangan kawasan industri, dan peningkatan penggunaan transportasi laut. 

Meski begitu, realisasi pertumbuhan akan bergantung pada kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan perusahaan menjaga efisiensi di tengah tekanan biaya operasional.

Baca Juga: WIKA Finalisasi Commissioning AFT Kertajati, Siapkan Layanan Avtur Terintegrasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×