Reporter: Vina Elvira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pariwisata PT Panorama Sentrawisata Tbk optimistis memandang prospek bisnis sepanjang tahun 2026. Meski industri pariwisata dibayangi ketidakpastian geopolitik global dan tekanan ekonomi domestik, perseroan tetap membidik pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun.
Direktur Utama Panorama Sentrawisata Budijanto Tirtawisata mengungkapkan bahwa hingga saat ini perusahaan belum melakukan revisi terhadap target maupun proyeksi bisnis yang telah ditetapkan sebelumnya. PANR masih menargetkan pertumbuhan kinerja sekitar 10%–15% secara tahunan atau year on year (yoy).
“Artinya target masih tetap tidak berubah. Forecast kita atau proyeksi kita masih mengikuti yang lama,” ujar Budijanto dalam Paparan Publik, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan, kondisi geopolitik global memang mempengaruhi pola perjalanan wisata serta meningkatkan biaya energi. Selain itu, tekanan ekonomi dan persaingan antar destinasi wisata menjadi tantangan yang harus diantisipasi oleh pelaku industri pariwisata.
Baca Juga: Pendapatan Panorama Sentrawisata (PANR) Tumbuh 23% pada 2025
Namun demikian, PANR menilai permintaan perjalanan wisata masih cukup kuat dan belum menunjukkan pelemahan signifikan, termasuk untuk perjalanan domestik. Perseroan juga melihat permintaan perjalanan internasional tetap tinggi meskipun sempat terjadi gangguan penerbangan akibat konflik di Timur Tengah.
Menurut Budijanto, dampak terbesar dari konflik tersebut dirasakan oleh maskapai-maskapai yang melintasi kawasan Timur Tengah. Meski demikian, wisatawan tetap melakukan perjalanan dengan beralih ke maskapai lain.
“Kita juga bicara dengan mitra-mitra kita, mitra-mitra baik dari Singapura dari Korea, dari Eropa, semuanya tetap berpikiran positif,” katanya.
Di sisi lain, kenaikan harga avtur dinilai belum memberikan dampak langsung terhadap operasional perusahaan karena biaya tambahan tersebut dibebankan kepada konsumen.
Sementara itu, terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), manajemen menilai kondisi tersebut justru memberikan dampak positif bagi bisnis inbound tourism. Nilai tukar yang melemah membuat destinasi wisata Indonesia menjadi lebih kompetitif dan terjangkau bagi wisatawan asing.
“Namun yang jadi concern itu adalah kepercayaan diri wisatawan untuk melakukan perjalanan ke destinasi kita ini. Apakah mereka masih mau? Karena ini kan sifatnya global ya,” tambahnya.
Strategi Bisnis PANR di Tahun 2026
Untuk menjaga pertumbuhan bisnis pada 2026, Panorama Sentrawisata telah menyiapkan sejumlah strategi utama. Pertama, perusahaan akan memperkuat core business inbound dan travel leisure dengan fokus pada produk-produk bermargin sehat, seperti segmen premium, korporasi, dan experiential tourism.
Kedua, perseroan akan memperkuat distribusi melalui ekspansi pasar dan pengembangan digital channel guna meningkatkan direct booking serta customer engagement. Selain itu, PANR juga menjalankan transformasi organisasi dan pengembangan talenta, serta menerapkan strategi keberlanjutan terintegrasi.
Terkait belanja modal atau capital expenditure (capex) 2026, manajemen menyebut perusahaan belum menyiapkan alokasi khusus di tengah ketidakpastian kondisi global maupun domestik.
“untuk capex sendiri kita tidak ada anggaran khusus, jadi kita melakukan bisnis secara organik dan strategi itu lebih kepada per masing-masing lini usaha di bagian pemasaran atau marketingnya,” tambah Direktur PANR, Helen.
Kinerja Keuangan PANR Kuartal I-2026
Dari sisi kinerja keuangan, hingga kuartal I-2026 PANR membukukan pendapatan sebesar Rp 1 triliun. Realisasi tersebut meningkat 17,59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 852,02 miliar.
Sementara laba bersih perusahaan juga tumbuh positif sebesar 6,62% menjadi Rp 15,42 miliar, dari sebelumnya Rp 14,46 miliar pada kuartal I-2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













