kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.736   -3,00   -0,02%
  • IDX 6.186   23,86   0,39%
  • KOMPAS100 815   2,75   0,34%
  • LQ45 625   4,57   0,74%
  • ISSI 217   -0,56   -0,26%
  • IDX30 358   3,05   0,86%
  • IDXHIDIV20 441   3,87   0,88%
  • IDX80 94   0,32   0,35%
  • IDXV30 122   0,82   0,68%
  • IDXQ30 115   0,85   0,74%

Pasar pelumas diproyeksikan hanya akan tumbuh 5%


Rabu, 08 Oktober 2014 / 10:14 WIB
ILUSTRASI. Harus Tahu! Inilah Bahan Skincare yang Tidak Boleh Digabung dengan AHA BHA


Reporter: Francisca Bertha Vistika | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Produsen dan distributor pelumas memangkas proyeksi pertumbuhan pasar pelumas tahun ini. Penurunan proyeksi ini terkait dengan pelemahan kinerja ekonomi dan faktor politik dalam negeri.

Perhimpunan Distributor, Importir, dan Produsen Pelumas Indonesia (Perdippi) semula menargetkan pertumbuhan penjualan pelumas tahun ini naik 10% dari tahun 2013. Namun faktor politik dalam negeri yang belum stabil, Perdippi merevisi setengahnya menjadi tumbuh 5% saja. "Tahun lalu kebutuhan pelumas 1 juta kilo liter, mungkin hanya  naik 5%," kata Paul Toar, Ketua Perdippi kepada KONTAN, Selasa (7/10).

Sebagai gambaran, sekitar 70%-80% pasar pelumas di Indonesia untuk  alat transportasi baik kendaraan roda dua maupun roda empat atau lebih. Sisanya atau sekitar 20%-30% untuk mesin industri.

Paul bilang, salah satu sumber pelambatan penjualan pelumas dari turunnya permintaan pelumas sektor industri. "Banyak industri menunda produksi, ini yang mempengaruhi permintaan pelumas tahun ini," jelas Paul.

Dari sisi pasokan, sekitar 80% pelumas dipasok industri pelumas dalam negeri yakni sebanyak 800.000 kiloliter. Sisanya, sekitar 200.000 kiloliter dari impor. "Pertamina masih menjadi produsen utama pasar dalam negeri yakni  lebih dari 60%. Sisanya dari 20-an perusahaan," kata Paul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×