kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Pasar produk jamu tergerus produk impor


Selasa, 18 September 2012 / 13:56 WIB
Pasar produk jamu tergerus produk impor
ILUSTRASI. Banyak dana perbankan nganggur, sukuk negara laris manis. Dana perbankan banyak disimpan di obligasi pemerintah yang dinilai aman dan menguntungkan. /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/01/10/2020.


Reporter: Fitri Nur Arifenie | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Produk olahan rempah dan tanaman jamu di Indonesia terancam tergerus oleh produk obat tradisional asing yang masuk ke Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pertanian, Suswono di Jakarta, Selasa (18/9).

Suswono bilang, maraknya bisnis obat-obat tradisional asing yang masuk ke Indonesia membuat pangsa pasar produk jamu dari dalam negeri tergerus. Menurut sang Menteri, obat-obat tradisional asing tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS), Malaysia dan Korea Selatan.

Di lain hal, masyarakat Indonesia juga sangat konsumtif terhadap produk dari luar negeri. "Masyarakat Indonesia banyak yang menggandrungi produk herbal luar," keluh Suswono usai peresmian unit layanan informasi dan promosi rempah dan jamu Indonesia, Selasa (18/9).

Tahun 2011 lalu, impor produk herbal terbesar datang dari Amerika Serikat dengan nilai impor US$ 19,13 juta. Menyusul setelah itu Malaysia dengan nilai impor US$ 7,09 juta.

Menurut Suswono, alasan lain yang membuat pasar produk herbal domestik tergerus adalah, minimnya promosi dan branding. "Contohnya ginseng, kalau ginseng pasti dari Korea, nah branding ini yang tidak kita miliki," jelas Suswono.

Padahal, kata dia, hasil penelitian menyebutkan, produk ginseng asal Korea tak kalah manfaatnya dibandingkan dengan produk temulawak dari Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×