kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Pasokan bahan baku obat dan alat kesehatan Indonesia masih tergantung impor


Kamis, 15 Juli 2021 / 19:03 WIB
Pasokan bahan baku obat dan alat kesehatan Indonesia masih tergantung impor
ILUSTRASI. Kinerja Indofarma (INAF): Penjualan obat-obatan produksi PT. Indofarma Global Medika (Persero) Tbk (INAF) di Jakarta, Selasa (15/5).


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pasokan bahan baku obat (BBO) dan alat kesehatan Indonesia masih tergantung dari luar negeri. Sebagai anggota Holding BUMN Farmasi, PT Indofarma Tbk (INAF) mengajak seluruh pelaku usaha farmasi untuk menghadapi tantangan ini. 

Arief Pramuhanto, Direktur Utama Indofarma memaparkan secara umum total market value farmasi dan kesehatan Indonesia mengalami pertumbuhan. Sebelumnya di 2016 senilai Rp 65,9 triliun menjadi Rp 84,59 triliun di 2020. 

"Tetapi kalau melihat khusus di 2020, dari sisi farmaai mengalami minus growth. Faktor utamanya, produk-produk yang tidak terkait dengan Covid-19 mengalami penurunan, tetapi produk yang terkait Covid-19 naiknya luar biasa. Kami alami sendiri di Indofarma," jelasnya dalam acara Investor Daily Summit, Kamis (15/7). 

Arief melihat, penurunan Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit khusus pasien reguler turun atau hanya 65% hingga 70% saja membuat demand obat untuk pasien reguler ikut melandai.

Baca Juga: Kasus corona melonjak, Indofarma akan genjot produksi Oseltamivir dan Ivermectin

Di tengah permintaan produk farmasi dan alat kesehatan yang tinggi saat ini, pasokan bahan baku obat (BBO) dan alat kesehatan masih didominasi dari luar negeri. 

Arief memaparkan, dari 1.809 macam obat yang ditransaksikan dalam e-katalog, hanya 56 obat yang belum diproduksi di dalam negeri. Artinya, sudah 97% obat telah diproduksi di domestik. Meskipun, bahan baku obat (BBO) masih mayoritas diimpor dari India dan China. 

Dari 10 besar molekul obat yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia, baru dua  yang bahan bakunya diproduksi dalam negeri, yakni Clopidogrel dan Paracetamol. 

Memang jika dilihat pada data yang disampaikan Indofarma, Clopidogrel merupakan obat yang paling banyak dikonsumsi pada 2019 atau nilai konsumsinya mencapai Rp 4,52 triliun. Sedangkan Paracetamol berada di urutan kedua atau senilai Rp 4,48 triliun. 

Baca Juga: Kasus Covid-19 naik, Indofarma bakal tingkatkan produksi Oseltamivir dan Ivermectin

Cukup berbeda dengan industri farma, pada industri alat kesehatan, Arief menjelaskan, importasi alkes tercatat senilai Rp 12,5 triliun atau nilainya 5 kali lebih besar daripada pembelanjaan alat kesehatan dalam negeri yang hanya di kisaran Rp 2,9 triliun. 

Adapun saat ini, dari 496 jenis alat kesehatan yang ditransaksikan dalam e-katalog pada tahun 2019-2020, hanya 152 jenis alkes yang mampu diproduksi di dalam negeri. Artinya, saat ini alkes baru 31% yang diproduksi dalam negeri dan sisanya, 69% impor. 

Lebih lanjut, Arief memaparkan, secara sederhana ada beberapa kelompok alat kesehatan yang saat ini masih banyak dipasok dari luar negeri. Pertama, produk in vitro diagnostics seperti rapid test, antigen, PCR. Kedua, electromedical yang merupakan alat kesehatan dengan teknologi tinggi. 

Di sisi lain, saat ini sudah ada produk alkes yang saat ini porsinya sudah 50% diproduksi di dalam negeri, yakni produk Consumble atau barang medis habis pakai seperti benang bedah, masker, dan lainnya. 

Baca Juga: Pakai campuran produk impor dan domestik, begini harga tes Covid-19 Kimia Farma

Sedangkan untuk produk alkes yang sudah banyak diproduksi di Indonesia saat ini, di antaranya hospital bed, tiang infus, inkubator, dan lainnya. 

Tingginya angka ketergantungan Indonesia terhadap alat kesehatan dari luar negeri, menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku industri lokal. "Ini merupakan tantangan besar bagi pelaku industri alat kesehatan dalam negeri untuk melakukan substitusi impor. Usaha ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor khususnya di industri alkes," kata Arief. 

Oleh karenanya, Indofarma sudah menyampaikan kepada pemerintah perihal strategi yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor khususnya alat kesehatan dengan teknologi tinggi. 

Arief mengungkapkan, pihaknya membuka peluang bagi  perusahaan luar negeri yang tertarik untuk membangun atau memindahkan pabrik alat kesehatan ke Indonesia. Nantinya, komponennya secara bertahap akan banyak dipasok dari lokal. 

"Demikian juga dengan produk in vitro diagnostics, pemerintah membuka peluang besar jika ada investor tertarik berinvestasi bersama dengan perusahaan dalam negeri. Bahkan pemerintah menyiapkan insentif yang cukup besar untuk itu," kata Arief. 

Selanjutnya: Outlook stabil, Bio Farma kantongi peringkat idAAA

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×