kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Pebisnis pelayaran andalkan komponen impor


Senin, 06 Maret 2017 / 11:49 WIB
Pebisnis pelayaran andalkan komponen impor


Reporter: Agung Hidayat, Anisah Novitarani | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Perusahan pelayaran domestik masih mengandalkan komponen luar negeri ketimbang dalam negeri. Keterbatasan ketersediaan komponen kapal menjadi salah satu alasan.

Bani Maulana Mulia, Managing Director PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), mengakui, pihaknya lebih banyak mengandalkan komponen suku cadang impor ketimbang dalam negeri. Argumen dia, masih ada suku cadang kapal yang belum bisa didapat di dalam negeri.

"Alat-alat seperti mesin, navigasi, komputer, dan radio lebih sering kami impor dari Jepang, China, dan Eropa," katanya, kepada KONTAN, Jumat (3/3).

Biasanya, pihak Samudera Indonesia melakukan perawatan kapal setiap 2,5 tahun sekali. Hal tersebut penting dilakukan supaya umur kapal bisa bertahap hingga puluhan tahun.

Langkah serupa juga dilakoni perusahaan yang lain. Menurut Marthalia Vigita, Sekretaris Perusahaan PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk (TMAS), pihaknya masih mengandalkan suku cadang kapal impor, kecuali komponen kapal yang kecil seperti baut, kunci atau seal. "Untuk komponen kecil, sekitar 70% dari lokal," katanya kepada KONTAN.

Kondisi ini membuat miris industri komponen kapal lokal. Menurut Ketua Umum Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) Eki Komarudin, industri perkapalan domestik cuma sanggup menyerap 5% sampai 10% komponen kapal lokal. "Sekitar 90% masih impor," tandasnya ke KONTAN.

Ia menyebutkan, banyak perusahaan kapal domestik memilih membeli komponen kapal impor dari China. Ia hitung, sekitar 75%-80% impor komponen kapal dari China. Sisanya baru dari Jepang, Jerman, dan negara lain.

Salah satu penyebab masih enggannya perusahaan kapal membeli komponen lokal adalah soal harga jual yang justru lebih mahal, yakni sekitar 40% dibanding komponen impor, terutama asal China.

Ia mengakui, ada beberapa komponen yang belum bisa dibikin di dalam negeri. Misalnya alat navigasi. Tapi masih ada beberapa komponen kapal yang bisa dibuat di lokal, seperti proses pengecoran atau pemasangan jendela kapal yang memakai karet.

Melihat kondisi ini, ia memproyeksi pertumbuhan industri komponen kapal tahun ini masih stagnan. Selain belum berminatnya industri kapal swasta mengutamakan komponen lokal, ada proyek pembangunan kapal pemerintah yang tertunda. Sayang ia tidak merinci proyek itu. Satu unit kapal membutuhkan 25% komponen: wind lass, main hall dan deck machinery.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×