kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.657   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.620   -16,80   -0,25%
  • KOMPAS100 866   -0,88   -0,10%
  • LQ45 656   -1,17   -0,18%
  • ISSI 231   0,64   0,28%
  • IDX30 367   -0,76   -0,21%
  • IDXHIDIV20 454   -0,16   -0,04%
  • IDX80 99   -0,07   -0,07%
  • IDXV30 126   0,61   0,49%
  • IDXQ30 118   -0,24   -0,21%

Pelaku Usaha Migas Waspadai Dampak Karhutla hingga Erupsi Gunung Anak Krakatau


Senin, 07 September 2026 / 17:36 WIB
Pelaku Usaha Migas Waspadai Dampak Karhutla hingga Erupsi Gunung Anak Krakatau
ILUSTRASI. Perusahaan migas nasional memantau perkembangan sejumlah kondisi termasuk karhutla dan erupsi Gunung Anak Krakatau.(Dok/PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) )


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) menyebutkan perusahaan minyak dan gas (migas) nasional terus memantau dan mewaspadai perkembangan sejumlah kondisi eksternal saat ini termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Ketua Komite Investasi sekaligus Ketua Bidang Investasi & Kerjasama Aspermigas, Moshe Rizal menjelaskan, hingga saat ini kondisi tersebut belum mengganggu kegiatan operasional perusahaan migas.

Ia mengatakan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sendiri sebagai Subholding Upstream memiliki lapangan Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) yang masih berjalan normal.

"OSES di utaranya Jakarta, di laut lepas, itu masih berjalan dengan lancar. Kenapa? Karena banyak anjungan-anjungan platform minyak itu sebenarnya unmanned atau tidak ada orang di anjungan tersebut," jelas Rizal kepada Kontan, Senin (7/9/2026).

Baca Juga: Garuda Metalindo (BOLT) Pertahankan Target Pertumbuhan Pendapatan 5%-10% pada 2026

Menurut Rizal, dengan sistem operasi tanpa awak pada sejumlah anjungan lepas pantai, aktivitas produksi tetap dapat berjalan meski terdapat potensi gangguan dari kondisi lingkungan sekitar.

Meski demikian, ia menegaskan perusahaan migas tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi terkini. 

Adapun pelaku usaha juga telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi gangguan operasional akibat faktor cuaca maupun bencana alam.

"Perusahaan migas akan tetap waspada, memperhatikan situasi terkini, juga kalau kita kan memang sudah dipersiapkan dari sejak awal, pelatihan, training. Pekerja-pekerja di laut lepas juga tersertifikasi," kata Rizal.

Selain wilayah operasi lepas pantai, menurutnya perusahaan migas juga telah melakukan antisipasi terhadap wilayah operasi darat yang berpotensi terdampak, termasuk di Kalimantan yang memiliki sejumlah aktivitas migas.

"Pertamina juga secara aktif membantu menanggulangi kebakaran, dari sisi penanggulangan untuk mencegah kebakarannya menyebar dan juga untuk mematikan api yang ada. Tapi memang sebatas di area mereka juga," ujarnya.

Lebih lanjut, Rizal menyebut perusahaan migas juga memiliki manajemen risiko untuk menghadapi kondisi darurat, termasuk risiko gangguan akibat bencana.

"Kita kan punya yang namanya manajemen risiko. Risiko yang berhubungan sama cuaca dan keadaan darurat itu sudah kita persiapkan semua biasanya," katanya.

Baca Juga: Pengiriman J&T Express Naik 65% di Semester I-2026, E-Commerce Jadi Angin Segar

Ia menambahkan, apabila kondisi memburuk, perusahaan akan menjalankan langkah mitigasi sesuai dengan prosedur operasi yang telah disiapkan.

"Kalau memang berlanjut, ya pasti akan ada mitigasi-mitigasi yang terkait operasi yang ada di lapangan," imbuhnya.

Dari sisi logistik, Rizal menyebut aktivitas operasi lepas pantai saat ini juga belum mengalami kendala signifikan. Pasalnya, sebagian besar mobilisasi pekerja dan kebutuhan operasi telah menggunakan jalur laut.

"Mayoritas sekarang sudah pakai kapal. Jadi kita sudah lama mengurangi jalan udara, dulu kan banyak pakai helikopter, sekarang untuk mengurangi biaya juga sudah banyak menggunakan kapal," jelas Rizal.

Ia menambahkan, perusahaan juga telah memiliki prosedur menghadapi risiko yang lebih besar akibat aktivitas vulkanik, misalnya gempa dan tsunami.

"Hal-hal tersebut sudah kita siapkan biasanya. Seperti apa evakuasinya, untuk menutup sumurnya, dan lain sebagainya. Itu sudah ada SOP-nya," kata Rizal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×