kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Pembukaan Selat Hormuz Bisa Jadi Kabar Baik untuk Industri Manufaktur Domestik


Jumat, 19 Juni 2026 / 17:56 WIB
Pembukaan Selat Hormuz Bisa Jadi Kabar Baik untuk Industri Manufaktur Domestik
ILUSTRASI. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengundang China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) Qingdao (Kemperin/Dok)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai menjadi sentimen positif bagi industri manufaktur nasional. Normalisasi jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi menekan biaya energi dan logistik yang selama ini membebani pelaku industri.

Wakil Ketua Umum (WKU) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian Saleh Husin mengungkapkan, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia. Dengan kembali normalnya aktivitas di kawasan tersebut, pasokan energi global berpotensi meningkat sehingga harga minyak, ongkos transportasi, dan premi logistik dapat lebih terkendali.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan sentimen positif bagi industri manufaktur nasional karena dapat mengurangi tekanan biaya produksi yang selama beberapa bulan terakhir meningkat akibat lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global," ujar Saleh kepada Kontan,  Jumat (19/6/2026).

Baca Juga: Wajib Sertifikasi Halal Berlaku 17 Oktober, Industri dan Pelaku UMKM Harus Hadapi

Menurut Saleh, kondisi tersebut akan memberikan manfaat bagi sejumlah industri padat energi, seperti petrokimia, pupuk, semen, logam dasar, keramik, dan kaca. Selain itu, kelancaran distribusi bahan baku impor yang dibutuhkan sektor manufaktur juga berpotensi membaik.

Meski demikian, Saleh mengingatkan dampak positif pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan dirasakan secara instan. Pasalnya, proses normalisasi rantai pasok global membutuhkan waktu sebelum tercermin pada biaya produksi industri.

Di sisi lain, kinerja manufaktur nasional masih dipengaruhi sejumlah faktor eksternal lainnya. Mulai dari kondisi permintaan global, ketidakpastian perdagangan internasional, hingga persaingan di pasar ekspor.

Karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz lebih tepat dipandang sebagai katalis positif yang dapat membantu memperbaiki iklim usaha dan meningkatkan optimisme pelaku industri.

"Terutama melalui potensi penurunan biaya energi dan logistik yang selama ini menjadi salah satu sumber tekanan utama bagi sektor manufaktur," imbuhnya.

Pelaku industri berharap stabilitas pasokan energi global dan kelancaran rantai pasok dapat terus terjaga sehingga mendukung daya saing manufaktur nasional di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×