kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Pemerintah akan genjot pendapatan wisata bahari


Rabu, 01 Juni 2016 / 14:38 WIB


Reporter: Agus Triyono | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Pemerintah berencana menggenjot pendapatan negara dari wisata bahari lebih besar lagi. Sampai saat ini, pendapatan dari sektor wisata bahari baru mencapai US$ 1 miliar. 

Arief Yahya, Menteri Pariwisata mengatakan, angka pendapatan ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Malaysia.

Negeri Jiran tersebut per tahun bisa mendapatkan pendapatan sampai dengan US$ 8 miliar per tahun. "Jauh sekali, seperdelapannya," kata Arif, Rabu (1/6).

Arief mengatakan, pihaknya akan berusaha mengejar ketertinggalan penerimaan pendapatan tersebut. Untuk itu, pemerintah telah menempuh beberapa cara.

Pertama, mencabut izin masuk turis ke wilayah teretorial Indonesia (CAIT). "Hambatan itu selama ini hanya ada di kita," katanya.

Selain itu, mencabut Asas Cabotage yang mengatur kewajiban bahwa kapal yang beroperasi di perairan Indonesia harus berbendera dan berawak Indonesia di lima pelabuhan besar, yaitu Medan, Jakarta, Surabaya, Bali dan Makasar. 

Arief berharap upaya tersebut bisa meningkatkan penerimaan wisata di sektor bahari.

"Paling tidak US$ 4 miliar tercapai 2019," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×