kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.629   76,00   0,43%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pemerintah akan genjot pendapatan wisata bahari


Rabu, 01 Juni 2016 / 14:38 WIB


Reporter: Agus Triyono | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Pemerintah berencana menggenjot pendapatan negara dari wisata bahari lebih besar lagi. Sampai saat ini, pendapatan dari sektor wisata bahari baru mencapai US$ 1 miliar. 

Arief Yahya, Menteri Pariwisata mengatakan, angka pendapatan ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Malaysia.

Negeri Jiran tersebut per tahun bisa mendapatkan pendapatan sampai dengan US$ 8 miliar per tahun. "Jauh sekali, seperdelapannya," kata Arif, Rabu (1/6).

Arief mengatakan, pihaknya akan berusaha mengejar ketertinggalan penerimaan pendapatan tersebut. Untuk itu, pemerintah telah menempuh beberapa cara.

Pertama, mencabut izin masuk turis ke wilayah teretorial Indonesia (CAIT). "Hambatan itu selama ini hanya ada di kita," katanya.

Selain itu, mencabut Asas Cabotage yang mengatur kewajiban bahwa kapal yang beroperasi di perairan Indonesia harus berbendera dan berawak Indonesia di lima pelabuhan besar, yaitu Medan, Jakarta, Surabaya, Bali dan Makasar. 

Arief berharap upaya tersebut bisa meningkatkan penerimaan wisata di sektor bahari.

"Paling tidak US$ 4 miliar tercapai 2019," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×