kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Pemerintah Bantah Indonesia Jadi Jalur Transshipment Produk China ke AS


Jumat, 21 Agustus 2026 / 19:01 WIB
Pemerintah Bantah Indonesia Jadi Jalur Transshipment Produk China ke AS
ILUSTRASI. Peningkatan arus peti kemas di IPC Terminal Petikemas (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah membantah laporan bertajuk The Great Transshipment Scam yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dalam jaringan global transshipment produk China ke Amerika Serikat (AS).

Juru Bicara sekaligus Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi, dan Persidangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pemerintah Indonesia tidak pernah terlibat maupun mendapatkan pemberitahuan terkait studi tersebut.

"Berkaitan dengan laporan yang baru saja diluncurkan, tanggapan dari Indonesia terhadap studi ini bahwa Indonesia tidak pernah terlibat ataupun diberitahu mengenai adanya studi ini," kata Haryo kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga: Ekonomi RI Ditargetkan 6% pada 2027, Industri Plastik Cari Mesin Pertumbuhan Baru

Dalam laporan tersebut, Indonesia disebut bersama Brasil, Malaysia, Thailand, Turki, dan Vietnam masuk dalam jaringan global transshipment.

Indonesia juga ditempatkan dalam Tier 2 dan disebut memiliki integrasi manufaktur dengan China, khususnya dalam ekspor produk plastik dan turunannya ke AS.

Namun, Haryo membantah anggapan tersebut. Menurutnya, tidak tepat apabila Indonesia disebut sebagai bagian dari jaringan transshipment produk China menuju pasar AS.

"Indonesia dianggap bersama Brasil, Malaysia, Thailand, Turki, Vietnam masuk di dalam global transshipment dan Indonesia ditempatkan pada Tier 2 dimana merupakan manufaktur terintegrasi dengan China dan ekspornya ke Amerika terutama untuk produk-produk plastik dan turunannya. Dapat kami sampaikan bahwa hal itu tidak benar," ujarnya. 

Haryo juga menyoroti penyebutan kawasan Batam dan Bekasi dalam laporan tersebut. Ia menjelaskan, kedua kawasan tersebut telah berkembang sebagai kawasan industri sejak dekade 1990-an dan mayoritas kegiatan usaha di dalamnya merupakan industri manufaktur.

Baca Juga: Industri Plastik Bertahan di Mode Survival, Inaplas Pastikan Belum Ada PHK

"Untuk bahan baku plastik kita sudah punya bahan baku sendiri yang diproduksi oleh Chandra Asri dan bahkan yang terakhir oleh Lotte Chemicals," katanya.

Menurut Haryo, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan bahan baku industri plastik di Indonesia tidak serta-merta berasal dari China melalui praktik transshipment

Produk plastik dan kemasan yang dihasilkan industri dalam negeri juga mayoritas digunakan untuk kebutuhan domestik maupun diekspor ke negara-negara sekitar.

"Jadi tidak benar terjadi transshipment dari negara lain dan plastik packaging-nya sebagian besar digunakan sendiri di dalam negeri ataupun diekspor ke sekitaran tetapi bukan ke Amerika Serikat," jelasnya. 

Baca Juga: Industri Plastik Tertekan Geopolitik Timur Tengah, Ini Strategi Mitigasinya

Haryo menilai pemerintah tidak perlu berlebihan dalam merespons laporan tersebut. Meski demikian, pemerintah tetap mencermati isu transshipment karena berkaitan dengan perdagangan dan daya saing ekspor Indonesia.

"Jadi kita tidak perlu khawatir dengan studi, namun kami juga tegaskan bahwa studi ini merupakan studi yang berdasarkan anggapan atau asumsi. Jadi apa yang terjadi sebetulnya tidak seperti apa yang mereka asumsikan," pungkas Haryo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×