kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45889,80   -6,05   -0.68%
  • EMAS1.327.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pemerintah Bidik Cofiring PLTU Capai 10,2 Juta Ton pada Tahun 2025


Senin, 15 Januari 2024 / 19:16 WIB
Pemerintah Bidik Cofiring PLTU Capai 10,2 Juta Ton pada Tahun 2025
ILUSTRASI. ESDM membidik pemanfaatan biomassa untuk cofiring PLTU mencapai 10,2 juta ton pada tahun 2025


Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membidik pemanfaatan biomassa untuk cofiring PLTU mencapai 10,2 juta ton pada 2025 mendatang.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan, implementasi cofiring PLTU merupakan salah satu strategi yang akan dilakukan untuk mengejar target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 mendatang.

"Untuk tahun 2023 kita melihat bahwa ada peningkatan (EBT) hanya saja belum signifikan. Tentu harus siapkan beberapa strategi," ungkap Arifin dalam Konferensi Pers, Senin (15/1).

Sayangnya, langkah ini bukan tanpa halangan. Tercatat, realisasi pemanfaatan cofiring biomassa pada PLTU saat ini masih terbilang minim jika dibandingkan target yang ditetapkan untuk 2025 mendatang.

Merujuk keterangan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), sepanjang tahun 2023 perusahaan setrum pelat merah tersebut menyerap biomassa sebanyak 1 juta ton untuk 43 PLTU yang tersebar di tanah air.

Baca Juga: Pemerintah Targetkan Tambahan 10,6 GW Pembangkit EBT Hingga 2025

Angka ini tumbuh lebih dari 71% dibandingkan realisasi serapan biomassa tahun 2022 yang sebesar 585 ribu ton. Secara bersamaan, PLN terus melakukan uji coba teknologi ini hingga tahun 2025 agar 52 PLTU di Indonesia bisa seluruhnya menggunakan co-firing.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, pihaknya terus mengembangkan teknologi dalam menjawab tantangan zaman. Dikembangkan sejak tahun 2021, kini substitusi batubara dengan biomassa tak hanya mampu mengurangi emisi karbon, namun juga menggerakkan ekonomi kerakyatan.

"Teknologi Co-Firing merupakan sebuah terobosan dalam transisi energi di tanah air. Sebab, dengan teknologi ini, banyak manfaat yang didapatkan, selain pengurangan emisi juga akan mengurangi penggunaan energi fosil. Co-firing tidak hanya menghasilkan listrik andal namun tetap murah bagi masyarakat. Lebih dari itu, co-firing juga mendorong perekonomian kerakyatan lewat keterlibatan langsung masyarakat dalam pengembangan biomassa," kata Darmawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×