Reporter: Hervin Jumar | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mematok harga acuan penjualan (HAP) kedelai di level importir Rp 11.500 per kilogram guna meredam gejolak harga di tengah tekanan geopolitik global.
Pemerintah mengklaim langkah ini mampu menjaga harga di tingkat pengrajin tahu dan tempe tetap di bawah Rp 12.000 per kg, kendati pelaku usaha mulai merasakan kenaikan biaya non-bahan baku.
Kesepakatan ini ditempuh usai rapat koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bersama asosiasi dan pelaku usaha.
Baca Juga: Bahlil: Pembahasan Harga BBM Non-Subsidi Masih Berlangsung, Stok Aman di Atas 20 Hari
Pemerintah menegaskan, stabilitas harga menjadi prioritas untuk menjaga daya beli sekaligus meredam keresahan pasar akibat isu lonjakan harga kedelai hingga Rp 20.000 per kg.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Yudi Sastro, membantah isu lonjakan harga kedelai tersebut. Ia memastikan harga masih terkendali dan pasokan mencukupi.
“Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp 11.500. Persediaan juga masih cukup,” ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga: Tersisa Dua Bulan, Implementasi B50 Masih Uji Coba & Penyesuaian Kapasitas Biodiesel
Berdasarkan data Gakoptindo yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026, harga kedelai nasional masih berada di bawah batas acuan. Di Jakarta, harga berkisar Rp 10.500–Rp 11.000 per kg, sementara di Sumatra mendekati Rp 11.450 per kg.
Angka ini masih di bawah ambang maksimal Rp 12.000 per kg di tingkat pengrajin.
Hanya saja, di balik klaim stabilitas tersebut, tekanan biaya mulai terasa. Importir mengakui adanya kenaikan ongkos logistik, asuransi kapal, dan komponen penunjang lain akibat dinamika geopolitik global.
Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, menyebut harga di tingkat importir saat ini berada di kisaran Rp 10.100–Rp 10.300 per kg, sedangkan di pengrajin Rp 10.500–Rp 11.000 per kg.
“Kami berusaha keras menjaga stabilitas, tapi tekanan biaya dari faktor eksternal memang ada,” katanya.
Baca Juga: PTPP Raih Proyek Jembatan Pulau Laut Senilai Rp 1,02 Triliun
Kondisi serupa diakui pengrajin. Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, memastikan harga jual tahu tempe belum naik signifikan, namun penyesuaian mulai terjadi dari sisi volume.
“Kami jamin harga masih di kisaran Rp 12.000–Rp 13.000, tapi mungkin volumenya yang menyesuaikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan utama saat ini justru bukan pada harga kedelai, melainkan biaya penunjang seperti kemasan plastik yang mengalami kenaikan.
Langkah pemerintah menahan harga melalui HAP dinilai menjadi bantalan jangka pendek. Namun, efektivitasnya akan diuji jika tekanan global berlanjut dan biaya logistik terus meningkat.
Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengisyaratkan pengawasan akan diperketat. Pemerintah bahkan membuka opsi intervensi langsung jika ditemukan kenaikan harga yang tidak wajar.
“Nanti kami kumpulkan para importir. Jangan menaikkan harga terlalu tinggi,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













