Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pembahasan antara pemerintah dan badan usaha mengenai penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi masih berlangsung. Bahlil memastikan bahwa cadangan BBM dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) nasional dalam posisi aman.
"Nanti kami akan menjelaskan di saat sudah melakukan penyelesaian exercise, sedikit lagi. Tunggu lah ya. Stok nasional tetap berada pada batasan minimal, di atas 20 hari semua, termasuk LPG di atas 10 hari," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/4/2026).
Bahlil mengatakan bahwa Indonesia telah melewati masa kritis terkait dengan pasokan energi di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah. Meski begitu, Bahlil menekankan agar masyarakat bisa tetap menggunakan BBM dan LPG secara bijak.
Baca Juga: Tersisa Dua Bulan, Implementasi B50 Masih Uji Coba & Penyesuaian Kapasitas Biodiesel
"Jadi sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa masa kritis kita, terhadap dinamika global untuk BBM, Alhamdulillah sudah kami lewati. Tetapi saya minta kepada seluruh masyarakat, harus bijak, arif dan memakai BBM, termasuk LPG," ujar Bahlil.
Dia melanjutkan, pemerintah terus berupaya untuk menjaga ketersediaan energi, termasuk melalui implementasi solar dengan campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit alias B50. Bahlil bilang, hasil uji coba terhadap B50 sudah pada taraf 60% - 70%. Uji coba dilakukan terhadap alat-alat berat, kereta api, kapal maupun mobil.
"Insya Allah bulan Mei - Juni, hasil akhirnya sudah selesai, dan akan diterapkan di 1 Juli. Ini sudah menjadi kebijakan negara. Ini survival mode, supaya kita tidak tergantung pada global terhadap BBM kita, khususnya untuk solar," ujar Bahlil.
Pemerintah pun ingin menambah ketersediaan penyangga energi atau stok operasional hingga bisa mencapai satu bulan. "Sekarang alhamdulillah penyangga energi kita 21 sampai dengan 25 hari, sekarang ada penambahan lagi 7 hari dari (fasilitas penyimpanan) Karimun, dan ini yang kita lagi komunikasikan sehingga bisa mencapai satu bulan," ujar Bahlil.
Di sisi yang lain, Bahlil menyatakan bahwa pemerintah masih melakukan komunikasi terkait dengan dua kapal Pertamina di Selat Hormuz. "Kita sedang berkomunikasi terus," imbuh Bahlil.
Impor Solar dan Bensin
Sebelumnya, Bahlil mengatakan bahwa Indonesia tidak mengimpor BBM jadi dari Timur Tengah. Impor hanya dilakukan untuk crude dengan porsi sekitar 20% - 25%. Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber impor crude, sehingga tidak mengalami ketergantungan dari pasokan Timur Tengah.
"Kami sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika dan beberapa negara lain. Jadi InsyaAllah clear lah, aman," ujar Bahlil, Rabu (8/4/2026).
Dari sisi produk BBM, Bahlil menyatakan bahwa Indonesia sudah tidak lagi tergantung pada solar impor. Namun, untuk BBM jenis bensin, Indonesia masih memerlukan importasi dari sejumlah negara. "Solar tidak kita lakukan impor, yang kita lakukan tinggal bensin saja, kurang lebih sekitar 20 - 22 juta kiloliter," jelas Bahlil.
Baca Juga: Telkomsel Dorong Startup Berbasis Kecerdasan Buatan Lewat NextDev 2026
Pada kesempatan yang berbeda, Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Migas) Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengungkapkan bahwa porsi impor minyak bensin masih dominan. Kementerian ESDM mencatat, total kebutuhan minyak bensin pada tahun 2025 mencapai 100.986 Kiloliter (KL) per hari.
Sementara hingga Februari 2026, total kebutuhan minyak bensin tercatat sebesar 99.661 KL per hari. Dari jumlah tersebut, porsi impor minyak bensin mencapai 60,18% pada tahun 2025, dan sebesar 59% dari kebutuhan per Februari 2026.
Berdasarkan data per 1 April 2026, impor minyak bensin paling banyak berasal dari Singapura dengan porsi 64,23% terhadap volume impor. Indonesia juga mengimpor minyak bensin dari Malaysia (27,18%), Oman (5,55%) dan Uni Emirat Arab (3,03%).
Sedangkan untuk minyak solar, Rizwi menjelaskan terdapat dinamika yang berbeda, terutama dari sisi impor. "Kebutuhan relatif meningkat, namun impor berhasil ditekan dari 12,17% di tahun 2025 menjadi hanya 6,26% di tahun 2026 sampai dengan Februari," ungkap Rizwi dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR-RI, Rabu (8/4/2026).
Adapun, total kebutuhan minyak solar pada tahun 2025 mencapai 110.932 KL per hari. Sedangkan hingga Februari 2026, kebutuhan minyak solar naik menjadi 111.356 KL per hari.
Berdasarkan data per 1 April 2026, Singapura dan Malaysia juga menjadi sumber utama impor minyak solar. Porsi impor minyak solar dari Singapura mencapai 58,56%, sementara impor dari Malaysia sebanyak 36,56%. Sumber impor minyak solar lainnya berasal dari Taiwan dengan porsi 4,88%.
Baca Juga: PTPP Raih Proyek Jembatan Pulau Laut Senilai Rp 1,02 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













