kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Penerapan BK Geliatkan 10 Industri Pengolahan Kakao yang Mati Suri


Senin, 07 Juni 2010 / 07:20 WIB
Penerapan BK Geliatkan 10 Industri Pengolahan Kakao yang Mati Suri


Reporter: Amailia Putri Hasniawati |

JAKARTA. Meski penerapan bea keluar (BK) kakao memberatkan eksportir, namun nyatanya menguntungkan pelaku industri pengolahan kakao didalam negeri. Pasalnya, usai penerapan BK kakao, 10 pabrik pengolahan kakao menyatakan bakal beroperasi kembali.

“Mereka minta waktu tiga hingga empat bulan untuk bersiap-siap, karena harus membersihkan tempat, menyiapkan mesin-mesin dan merekrut karyawan, karena karyawannya ada yang sudah dipecat-pecatin,” kata Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Piter Jasman.

Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain PT Maju Bersama, PT Kopi Jaya,dan PT Cocoa Wangi Murni. Selain itu, BK diharapkan mampu mendatangkan investor, yaitu mereka yang tidak memiliki tanaman kakao tetapi punya industri pengolahan supaya merelokasi pabriknya di dalam negeri untuk menghemat biaya.

Contohnya Malaysia dan Singapura yang tidak ada satu pun pohon kakao tumbuh tetapi mereka punya pabirk pengolahan kakao. Malaysia memiliki pabrik pengolahan dengan kapasitas mesin terpasangnya sebesar 400.000 ton per tahun dan yang terealisasi 330.000 ton per tahun. Adapun Singapura kapasitas produksinya mencapai 100.000 ton per tahun.

Piter pun mengatakan, saat ini sudah ada eksportir asal Malaysia yang mengolah dulu biji kakaonya di sini melalui di pabrik pengolahan dalam negeri. Jadi bahan baku yang mereka dapat dari para pengumpul di dalam negeri yang kemudian diberikan pada industri pengolah di dalam negeri untuk diolah menjadi cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake ataupun powder. Hasil pengolahan kakao ini dikirim ke malaysia. “Mereka membayar fee kepada industri pengolah,” kata Piter.

Kalau ini menjadi pilihan para eksportir asing, lanjut dia, tentu ini menguntungkan bagi industri. Dengan demikian industri di dalam negeri bisa lebih bergairah. Baik untuk mengoperasikan kembali pabriknya maupun meningkatkan kapasitas produksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×