kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pengembangan infrastruktur di 5 destinasi super prioritas dapat menarik investor


Selasa, 10 September 2019 / 21:58 WIB
Pengembangan infrastruktur di 5 destinasi super prioritas dapat menarik investor
ILUSTRASI. Kawasan penginapan Tuktuk Siadong di Pulau Samosir

Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dikebutnya pembangunan infrastruktur diyakini mampu menarik investor masuk maupun merealisasikan pembangunan dari investor yang sudah masuk di lima destinasi super prioritas. 

Hiramsyah S. Thaib, Ketua Tim Percepatan 10 Bali baru menyebutkan bahwa dengan harapan infrastruktur dasar selesai 2020, maka paling tidak 2021-2024 akan ada loncatan investasi yang masuk melalui PMA dan PMN.

Baca Juga: Kepala Bappenas: Wisatawan China dan India potensial untuk pariwisata Indonesia

"Termasuk FDI maupun DI," ujarnya menjawab pertanyaan kontan.co.id, Selasa (10/9).

Ia bilang, saat ini saja di Danau Toba telah memiliki 7 investor yang masuk dengan total nilai Rp 6,1 triliun. Selain itu, disebutnya di Kupang telah masuk investasi senilai Rp 7 triliun.

"Jadi kalau diambil rata-tara Rp 6 triliun, dari lima destinasi super prioritas di dua, tiga, tahun pertama sudah dapat Rp 30 triliun," lanjutnya.

Adapun pihaknya dari awal menilai dari FDI yang bisa didapatkan hingga lima tahun ke depan diperkirakan US$ 14 miliar - US$ 15 miliar atau setara Rp 180 triliun - Rp 200 triliun.

"Itu untuk kawasan dalam, belum kalau investasi di infrastruktur," ujarnya.

Menurutnya, investor yang masuk tak semua ingin melalui pembangunan hotel melainkan investasi dengan akuisisi jalan tol atau bandara yang sudah ada. Namun, ia tak memaparkan lebih jauh.

Baca Juga: Mengintip pemandian favorit komandan tertinggi pasukan sekutu di Morotai

Selain investasi, Hiramsyah menjelaskan bahwa dipilihnya Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, dan Linkupang menjadi lima super prioritas lantaran dinilai yang paling membutuhkan bantuan pengembangan infrastruktur secara masif.

Menurutnya, destinasi seperti Wakatobi yang memiliki market segmented tidak terlalu genting dalam pembangunan infrastruktur.

Selain itu, pemilihan destinasi super prioritas juga dilihat dari size. Ia mencontohkan dari Borobudur yang melingkupi dua provinisi yakni Yogyakarta dan Jawa Tengah, demikian pula dengan 4 lainnya.

Walaupun begitu, Hiramsyah memastikan walaupun destinasi lainnya tak masuk super prioritas tetap akan didukung baik dari sisi pengembangan infrastruktur maupun promosinya.

Baca Juga: Menuju destinasi kelas dunia, Labuan Bajo terapkan konsep wisata berbasis masyarakat

 



Video Pilihan

TERBARU

×