kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.772.000   35.000   1,28%
  • USD/IDR 16.957   -16,00   -0,09%
  • IDX 9.010   -124,37   -1,36%
  • KOMPAS100 1.238   -17,33   -1,38%
  • LQ45 871   -12,96   -1,47%
  • ISSI 330   -4,30   -1,29%
  • IDX30 446   -8,42   -1,86%
  • IDXHIDIV20 522   -16,69   -3,10%
  • IDX80 137   -2,04   -1,46%
  • IDXV30 144   -4,36   -2,93%
  • IDXQ30 142   -3,40   -2,34%

Pengusaha Khawatir Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Begini Dampaknya Bagi Industri


Rabu, 21 Januari 2026 / 17:38 WIB
Pengusaha Khawatir Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Begini Dampaknya Bagi Industri
ILUSTRASI. Neraca dagang pada November 2025 surplus (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto). Rupiah nyaris Rp 17.000/USD memicu kekhawatiran pengusaha. Dampak ke biaya produksi, utang valas, dan strategi mitigasi terungkap.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah yang nyaris menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran para pengusaha.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah berada di atas Rp 16.900 dalam tiga perdagangan beruntun.

Menutup perdagangan Rabu (21/1/2026), kurs rupiah bertengger di posisi Rp 16.963 per dolar AS. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kompak menyoroti langkah melemah kurs rupiah pada awal tahun ini.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa menyoroti pelemahan kurs pada awal 2026 tak lepas dari faktor tekanan global, terutama pada mata uang emerging market.

Baca Juga: Rupiah Berfluktuasi, Pelaku Usaha Alat Berat Ungkap Prospek Penjualan Tahun 2025

Kadin mencermati penguatan dolar AS dan tekanan terhadap rupiah yang nyaris ke level Rp 17.000 sebagai faktor risiko yang perlu diantisipasi serius oleh dunia usaha.

Erwin menerangkan bahwa dampak dari situasi ini akan beragam di setiap sektor industri. Bagi eksportir berbasis konten lokal, pelemahan rupiah bisa memberi ruang peningkatan penerimaan.

Tetapi bagi industri yang bergantung pada impor bahan baku, barang modal, dan energi, tekanan kurs bakal mengerek naik biaya produksi dan modal kerja.

Di sisi lain, tekanan kurs juga berdampak terhadap biaya pembiayaan, terutama bagi perusahaan dengan utang valas atau kebutuhan lindung nilai (hedging).

Dalam kondisi seperti ini, dunia usaha cenderung lebih berhati-hati menambah utang dan menunda ekspansi, khususnya yang berbasis impor.

Menurut Erwin, pelaku usaha saat ini fokus pada langkah mitigasi jangka pendek, seperti penyesuaian struktur biaya, efisiensi operasional, hedging yang lebih disiplin, serta negosiasi ulang kontrak impor dan logistik.

Baca Juga: GPEI: Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Eksportir Perbanyak Volume

Erwin pun menegaskan bahwa dunia usaha butuh stabilitas dan volatilitas yang terjaga agar perencanaan bisnis tetap berjalan.

“Kadin berharap stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas. Bukan untuk mengunci level tertentu, tetapi menjaga volatilitas agar tidak terlalu tajam, sehingga dunia usaha bisa melakukan perencanaan dengan lebih baik,” kata Erwin saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (21/1/2026).

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani turut menyampaikan kekhawatiran pelaku usaha terhadap pelemahan rupiah yang semakin dalam.

Pelemahan yang terjadi sudah cukup berlarut-larut dan lebih dalam dari perkiraan sebelumnya, sehingga berpotensi membawa beban yang berlebih terhadap kinerja usaha.

Dalam skenario terburuk, apabila pelemahan kurs terus berlanjut dan tidak segera ditangani, Shinta khawatir kelancaran arus kas bisa terganggu, khususnya bagi pelaku usaha yang memiliki struktur impor besar.

Risiko lainnya adalah kontraksi kinerja usaha serta cost-push inflation di pasar akan membebani pertumbuhan ekonomi jangka pendek hingga menengah.

Baca Juga: Pebisnis Migas hingga Industri Manufaktur Soroti Dampak Pelemahan Kurs Rupiah

Apindo berharap pemerintah lebih giat melakukan upaya stabilisasi dan penguatan nilai tukar, baik melalui intervensi moneter maupun intervensi non-moneter.

Termasuk penguatan fundamental ekonomi nasional melalui deregulasi, debirokratisasi dan reformasi struktural terhadap iklim usaha dan investasi.




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×