kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.660.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Pengusaha Khawatir Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Begini Dampaknya Bagi Industri


Rabu, 21 Januari 2026 / 17:38 WIB
Pengusaha Khawatir Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Begini Dampaknya Bagi Industri
ILUSTRASI. Neraca dagang pada November 2025 surplus (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto). Rupiah nyaris Rp 17.000/USD memicu kekhawatiran pengusaha. Dampak ke biaya produksi, utang valas, dan strategi mitigasi terungkap.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli

Shinta menilai hal itu penting untuk menstimulasi penerimaan Foreign Direct Investment (FDI) dan pertumbuhan ekspor. Selain itu, perbaikan disiplin fiskal juga perlu dilakukan untuk memulihkan kepercayaan dan demand pasar terhadap bonds pemerintah Indonesia dalam mata uang asing.

"Kami berharap instrumen intervensi, khususnya yang bersifat penguatan terhadap fundamental ekonomi nasional dapat diprioritaskan dan memberikan efek konkret di lapangan," kata Shinta.

Dihubungi terpisah, Direktur PT Intraco Penta Tbk (INTA) Willianto Febriansa menyampaikan bahwa fluktuasi kurs turut berdampak kepada industri alat berat.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Dunia Usaha Menanti Langkah Serius Pemerintah

"Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS perlu diwaspadai dan dimonitor secara cermat karena akan menyebabkan tekanan terhadap harga jual alat berat dan komponen," kata Willianto.

Dia menjelaskan, exposure INTA sebenarnya lebih banyak ke mata uang Yuan China (CNY). Hanya saja, pelemahan terhadap dolar AS biasanya juga diikuti pelemahan rupiah terhadap mata uang utama global, termasuk CNY.

Sebagai bentuk respons dan mitigasi atas kondisi ini, INTA akan fokus mengoptimalkan manajemen stok dan operasional yang lebih efisien.

"Stok yang berlebih di tengah situasi kurs mata uang asing yang bergerak volatile bisa menyebabkan inefisiensi dan miss-kalkulasi harga," tandas Willianto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×