kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Penurunan harga BBM tak untungkan perusahaan Taksi


Selasa, 20 Januari 2015 / 19:41 WIB
ILUSTRASI. Poster One Piece Live Action Netflix Terbaru, Bajak Laut Topi Jerami Siap Berlayar!


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Pemerintah sudah dua kali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) sejak keputusan kenaikan BBM November tahun lalu. Meski ini berpotensi memberi angin segar bagi perusahaan di sektor jasa transportasi tetapi kenyataannya operator taksi justru mengaku tak diuntungkan. Menurut mereka penurunan tersebut hanya berdampak pada para pengemudinya saja.

Sebut saja salah satu operator taksi Express dan Eagle. Merry Anggraeni, Sekertaris Perusahaaan PT Express Transindo Utama Tbk mengatakan penurunan harga BBM tidak dirasakan langsung efeknya bagi perseroan.

Perusahaan berkode emiten TAXI mengaku sejak awal harga BBM dinaikkan perusahaan memang belum menaikkan kewajiban setoran pengemudinya. "Karena setoran kita tetap sama jadi yang dampak yang paling besar diterima pengemudi," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (20/1).

Hal ini juga dialami oleh operator taksi Blue Bird. Andre Djokosoetono, Direktur PT Blue Bird Tbk pun menyebut kelebihan dari penurunan harga BBM tersebut langsung dirasakan oleh para pengemudinya. Kata dia perseroan akan lebih adaptif mengikuti naik turunnya harga bahan bakar karena itu menyangkut kepentingan pengemudinya.

Sementara hal berbeda justru diungkapkan oleh operator taksi White Horse. Angreta Chandra, Direktur Keuangan PT White Horse Tbk menyebut penurunan harga BBM ini berimbas pada turunnya beban operasional perseroan sekitar 4% hingga 5%.

Namun meski begitu, perusahaan berkode emiten WEHA itu tetap mengaku hal tersebut tidak berdampak signifikan bagi perusahaan. "Biaya lain seperti spare part belum ada penurunan dan kenaikan UMP membuat kenaikan biaya operasional," tutup Angreta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×