kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Permintaan Ekspor Naik, Harga Rumput Laut Sulsel Naik


Senin, 31 Mei 2010 / 16:20 WIB


Reporter: Femi Adi Soempeno |

JAKARTA. Harga rumput laut di Sulawesi Selatan untuk kebutuhan ekspor naik karena tingginya permintaan di pasar internasional. Saat ini, harga rumput laut jenis Cottoni Rp 12.000 – Rp 14.000 per kilogram dan Rp jenis Gracilaria 7.000 – Rp 8.000 per kilogram.

Kenaikan permintaan di pasar ekspor itu nyatanya tak meninggalkan kelegaan bagi industri pengolahan rumput laut di dalam negeri. Pasalnya, dengan permintaan yang tinggi, suplai rumput laut untuk kebutuhan domestik akan berkurang. Dus, ada kecenderungan petani rumput laut di Sulsel melepas rumput laut mereka dengan banderol yang tinggi.

Tak semua industri pengolahan rumput laut mampu membungkus rumput laut dengan harga yang tinggi. Kemampuan mereka membeli hasil Rumput Laut jenis Cottoni berkisar Rp 10.000 – Rp 12.000 per kilogram, dan jenis Gracilaria antara Rp 5.000 – Rp 6.000 per kilogram.

Ditambah lagi, petani rumput laut makin tergantung pada permintaan ekspor. Ujung-ujungnya, sejumlah industri dalam negeri pun akan terpuruk lantaran mereka tak mampu menyerap rumput laut dengan harga tinggi.

Meski permintaan tinggi, namun Ketua Umum Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia (ASPPERLI) Arman Arfah mengatakan, ekspor Rumput Laut Sulsel masih tergolong mini. "Hanya sekitar 20% dari total produksi Sulsel yang mencapai 70 ribu hingga 80 ribu ton per tahunnya," katanya, Senin (31/5).

Jumlah produksi yang diusung dari Sulsel selama ini berasal dari dua jenis Rumput Laut, yaitu jenis Gracilaria dan Cottoni, yang dibudidayakan kurang lebih 40.000 petani Rumput Laut yang tersebar di beberapa kabupaten yang ada di Sulsel. Untuk jenis Gracilaria, lanjutnya, rata-rata produksi per tahunnya mencapai 30.000 ton, sedangkan jenis Cottoni mencapai 40.000 ton produksi per tahun.

Asal tahu saja, ekspor rumput laut Indonesia antara lain ke Denmark, China, Filipina, Hongkong, Spanyol, Jepang, dan Amerika Serikat. Rumput laut berpotensi menghasilkan 500 jenis produk akhir, yakni mulai dari makanan, minuman, kosmetik, perlengkapan mandi, hingga obat-obatan.

Saat ini, produksi rumput laut kering dunia mencapai 1,2 juta ton. Sebanyak 50%-nya berasal dari Indonesia; 35%-nya dari Filipina

Pasar internasional membutuhkan rumput laut jenis eucheuma sebanyak 236.000 ton kering per tahun. Padahal, produksi dunia baru mencapai 145.000 ton per tahun.

Sementara itu, kebutuhan dunia untuk rumput laut jenis gracilaria, bahan pembuatan agar-agar, 96.000 ton kering per tahun, dengan produksi baru 48.500 ton. Dunia juga membutuhkan rumput laut berupa karaginan 69.000 ton kering per tahun, sedangkan produksi dunia 40.000 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×