Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
Selanjutnya, Pertamina yang memiliki lebih dari 7.000 SPBU akan berperan untuk manufaktur produk hilir, yang meliputi pembuatan battery cell hingga battery pack. Lalu, PLN akan berperan dalam pembuatan battery cell, penyediaan infrastruktur pengisian EV seperti SPKLU dan SPBKLU serta Energy Management System (EMS).
Terkait dengan roadmap pengembangan battery EV, pada tahun 2021 direncanakan sudah mulai pembangunan charging station atau SPKLU dan SPBKLU. Saat ini PLN sudah memiliki 32 titik SPKLU yang tersebar di 22 lokasi, serta pilot project 33 SPBKLU.
Baca Juga: Berambisi kembangkan industri baterai EV, ini permintaan insentif dari BUMN
Pada tahun 2022, Original Equipment Manufacturer (OEM) ditargetkan sudah mulai memproduksi EV di Indonesia. Lalu pada tahun 2024 direncanakan pabrik refining HPAL mulai beroperasi bersama dengan pabrik precursor dan katoda. Kemudian pada tahun 2025 pabrik cell to pack battery ditargetkan mulai beroperasi.
Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury bahwa timeline pembentukan holding baterai kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) itu sudah disepakati oleh keempat anggotanya. Ditargetkan, IBC bisa terbentuk pada Semester I-2021.
"Kita sepakati (holding) ini akan dimiliki bersama 4 perusahaan itu karena harus terintegrasi hulu hingga hilir. Semua value chain ini dipayungi IBC. Jangka waktu kita harapkan IBC bisa dibentuk di Semester I tahun ini," kata Pahala.
Selanjutnya: Pemerintah Makin Serius Buka Jalan Kendaraan Listrik Ngebut di Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













