Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tensi geopolitik yang menguat dari perang Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel dinilai dapat mempengaruhi kinerja ekspor minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) nasional.
Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Mansuetus Darto mengatakan, Timur Tengah termasuk Iran memang bukan pasar utama terbesar CPO nasional dibandingkan dengan India, China, dan Uni Eropa.
Namun, ia menilai eskalasi konflik dapat secara tidak langsung mempengaruhi sejumlah hal terkait industri sawit dalam negeri.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026: Simak Daftar SPKLU di Jalan Tol Trans Jawa
"Harga minyak mentah dunia yang terdampak konflik, bisa berdampak pada harga minyak nabati, termasuk CPO," ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026).
Selain itu, Darto melihat ketegangan geopolitik juga dapat meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi pengiriman akibat tingginya risiko di sepanjang jalur perdagangan internasional. Secara global, konflik ini juga dapat memicu volatilitas nilai tukar.
Yang lebih signifikan, menurut dia, ialah dampaknya terhadap impor solar yang digunakan dalam program biodiesel B40. Jika konflik mengerek harga impor solar, "Kewajiban campuran B40 bisa jadi dikurangi saja," imbuh Darto.
Dengan begitu, Darto mencermati perang lebih berpotensi menjadi sentimen jangka pendek yang memengaruhi volatilitas harga, alih-alih mengganggu volume ekspor secara signifikan. "Industri sawit kita relatif resilien karena pasar ekspor yang terdiversifikasi," terangnya.
Namun, untuk mengurangi risiko, industri sawit menurutnya masih perlu mengoptimalkan diversifikasi pasar ekspor ke Asia Selatan, Afrika, dan pasar domestik melalui program biodiesel.
Lebih lanjut, penguatan hilirisasi juga dinilai krusial. Agar, ekspor tidak hanya berbentuk CPO mentah tetapi juga produk turunan bernilai tambah. "Efisiensi biaya produksi juga penting untuk menjaga daya saing ketika harga global tertekan," tandas Darto.
Baca Juga: Pendapatan Lippo Karawaci (LPKR) Turun 21,48% di Tahun 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













