kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

PLN hanya negosiasi dua kontrak PLTU


Kamis, 16 November 2017 / 16:31 WIB


Reporter: Febrina Ratna Iskana | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN (Persero) tengah melakukan negosiasi harga dengan Independent Power Producer (IPP) yang mengembangkan proyek PLTU di Pulau Jawa. Direktur Utama PLN, Sofyan Basir bilang, harga energi primer saat ini sudah naik cukup tinggi.

Makanya pemerintah mendorong PLN untuk melakukan negosiasi harga. Namun Sofyan menegaskan hanya IPP yang harganya terlalu tinggi atau di atas 85% dari Biaya Pokok Penyediaan (BPP) dan yang bersedia melakukan renegosiasi harga yang akan dikaji ulang kontraknya.

"Pak Andy Sommeng (Dirjen Ketenagalistrikan) lihat kalau ada yang mahal agar di review," ujar Sofyan, Kamis (16/11).

Sejauh ini Sofyan bilang ada dua kontrak yang belum berjalan dan harganya di atas 85% BPP. Sementara kontrak harga beli listrik dari PLTU di Pulau Jawa rata-rata sudah turun sebesar US$ 1-2 sen per kWh.

Kedua kontrak tersebut adalah proyek PLTU Cirebon Ekspansi dan Jawa III. Untuk proyek Cirebon Ekspansi sudah selesai negosiasi. Sementara Jawa III masih dalam negosiasi dengan Bakrie Power dan YTL Power Internasional. Jika tidak terjadi kesepakatan antara PLN dengan IPP Jawa III, Iwan bilang proyek tidak akan berlanjut.

"Sudah, sudah beberapa kali, optimistis. (Mereka) terbuka," imbuh Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN, Supangkat Iwan Santoso.

Sementara untuk proyek-proyek PLTU yang sudah berjalan, sejatinya ada yang ingin dinegosiasikan oleh PLN. Namun menurut Sofyan, IPP menolak untuk melakukan negosiasi.

Sementara untuk proyek-proyek PLTU yang belum beroperasi, Iwan bilang kontrak harganya sudah di bawah US$ 6 sen per kWh. "Jadi pada prinsipnya kalau belum jalan dan sudah lama, ada ketentuan baru yang juga kami bisa dapatkan lebih murah. Makanya yang lama kami upayakan turun seperti harga hari ini," jelas Iwan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×