kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.947   -95,00   -0,53%
  • IDX 6.351   31,53   0,50%
  • KOMPAS100 835   3,22   0,39%
  • LQ45 634   -1,22   -0,19%
  • ISSI 220   1,96   0,90%
  • IDX30 356   -1,18   -0,33%
  • IDXHIDIV20 435   -3,83   -0,87%
  • IDX80 95   0,21   0,22%
  • IDXV30 120   -0,51   -0,42%
  • IDXQ30 113   -0,52   -0,45%

PMI Menguat, Peluang Manufaktur Kembali Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbuka


Rabu, 05 Agustus 2026 / 19:49 WIB
PMI Menguat, Peluang Manufaktur Kembali Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbuka
ILUSTRASI. Kinerja Positif Industri Manufaktur Indonesia (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni.

Perbaikan ini memunculkan optimisme sektor manufaktur mulai kembali menjadi motor penciptaan lapangan kerja. Apalagi, laporan S&P Global Market Intelligence mencatat perusahaan mulai menambah tenaga kerja seiring meningkatnya volume produksi dan stabilnya pesanan baru.

Meski demikian, kalangan pelaku usaha dan ekonom mengingatkan pemulihan tersebut masih terlalu dini untuk disimpulkan sebagai awal kebangkitan penyerapan tenaga kerja secara berkelanjutan.

Baca Juga: Manufaktur Tertekan, Riset CSIS Ekonomi Global 2027 Justru Ditopang Sektor Teknologi

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam mengatakan, pergerakan PMI masih bersifat fluktuatif sehingga perlu dilihat konsistensinya dalam beberapa bulan ke depan.

"Kalau kita lihat PMI masih fluktuatif. Untuk melihat trennya kita butuh data tiga bulan ke depan, apakah PMI benar-benar positif dan konsisten," ujar Bob kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Menurut dia, penambahan tenaga kerja yang mulai terjadi saat ini lebih banyak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek atau menggantikan pekerja kontrak yang masa kerjanya telah berakhir.

Sementara itu, keputusan perusahaan untuk melakukan ekspansi dan merekrut tenaga kerja baru dalam jumlah besar masih akan bergantung pada perkembangan permintaan dalam tiga hingga empat bulan mendatang.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Saleh Husin juga menilai kenaikan PMI menjadi sinyal positif bahwa aktivitas manufaktur mulai membaik. Namun, indikator tersebut belum cukup untuk menyimpulkan industri kembali menjadi mesin utama penyerapan tenaga kerja.

Menurut dia, PMI merupakan indikator jangka pendek sehingga diperlukan tren ekspansi yang berlangsung konsisten selama beberapa bulan agar pelaku industri memiliki keyakinan untuk memperluas kapasitas produksi dan menambah tenaga kerja secara berkelanjutan.

Saleh menambahkan, hubungan antara kenaikan PMI dan penyerapan tenaga kerja memang positif, tetapi tidak terjadi secara langsung. Perusahaan umumnya akan memastikan peningkatan permintaan dan produksi benar-benar berkelanjutan sebelum melakukan perekrutan dalam skala besar.

"Perbaikan PMI bisa menjadi indikator awal, tetapi peningkatan penyerapan tenaga kerja biasanya terjadi dengan jeda waktu dan perlu dikonfirmasi oleh tren PMI maupun indikator ekonomi lainnya," katanya kepada Kontan, Rabu (5/8/2026). 

Baca Juga: FORE Bakal Kebut Ekspansi Gerai Fore Donut Usai Pabrik Dough Rampung

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, kenaikan PMI pada Juli masih bersifat fluktuatif. Menurutnya, ekspansi yang terjadi juga masih sangat tipis karena indeks baru bergerak sedikit di atas level 50.

"Kalau saya melihatnya ini masih fluktuatif. Ekspansinya juga masih marginal karena PMI baru berada sedikit di atas level 50," ujar Faisal kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Ia menambahkan, laporan S&P Global juga menunjukkan permintaan ekspor masih melemah. Di sisi lain, biaya input industri memang mulai melandai, tetapi masih berada pada level yang relatif tinggi.

Menurut Faisal, perbaikan permintaan domestik saat ini lebih banyak didorong oleh optimisme pelaku usaha terhadap prospek permintaan dibandingkan perbaikan fundamental ekonomi yang kuat.

Karena itu, sinyal pemulihan tersebut belum cukup solid untuk menjadi landasan ekspansi usaha maupun perekrutan tenaga kerja secara agresif.

"Permintaan domestik sendiri belum terlalu stabil sehingga masih sangat rentan terhadap berbagai guncangan ekonomi. Potensi kembali masuk ke zona kontraksi masih tetap ada," katanya.

Pengamat ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Noer Effendi juga menilai kembalinya PMI ke zona ekspansi memang menjadi kabar baik karena mencerminkan aktivitas produksi mulai pulih setelah beberapa bulan melemah.

Menurutnya, stabilnya pesanan baru dan mulai masuknya proyek baru menjadi indikasi bahwa kondisi industri mulai membaik. Namun, ia mengingatkan bahwa pemulihan PMI belum tentu langsung diikuti lonjakan perekrutan tenaga kerja.

"Belum tentu bulan-bulan berikutnya seperti ini," ujarnya kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Meski demikian, Tadjuddin melihat kondisi pasar mulai lebih stabil dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Daya beli masyarakat juga dinilai mulai membaik sehingga memberi ruang bagi industri meningkatkan produksi apabila tren tersebut berlanjut.

Ia memperkirakan industri padat karya akan menjadi sektor yang paling cepat menyerap tenaga kerja apabila pemulihan manufaktur berlanjut. Industri tekstil, garmen, alas kaki, serta makanan dan minuman dinilai masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar karena karakteristik usahanya yang lebih mengandalkan tenaga kerja dibandingkan investasi mesin.

"Sektor-sektor padat karya seperti tekstil, garmen, sepatu, dan makanan masih memiliki peluang besar menyerap tenaga kerja jika permintaan terus membaik," katanya.

Sebaliknya, industri padat modal seperti pengolahan nikel diperkirakan tidak akan memberikan tambahan lapangan kerja sebesar industri padat karya karena lebih mengandalkan investasi teknologi dan peralatan.

Agar momentum pemulihan PMI dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kesempatan kerja, Tadjuddin mendorong pemerintah memperkuat dukungan terhadap sektor padat karya melalui kemudahan akses pembiayaan maupun insentif perpajakan.

"Pemerintah perlu memberikan insentif kepada industri yang segera menyerap tenaga kerja, baik melalui fasilitas kredit maupun keringanan pajak," pungkasnya. 

Baca Juga: Freeport Dilaporkan Mengajukan Perpanjangan IUPK Selepas 2041

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×