kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Produktivitas sawit Indonesia masih kalah jauh


Selasa, 09 Januari 2018 / 21:36 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produktivitas pohon sawit pengaruhi daya saing. Produktivitas tinggi akan membuat biaya produksi lebih rendah.

"Daya saing sawit ditentukan dari produktivitas ton per hektar," ujar Direktur Investor Relations PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk., Andi W. Setianto kepada Kontan.co.id, Selasa (9/1).

Oleh karena itu Indonesia saat ini melakukan program peremajaan guna meningkatkan produktivitas. Saat ini produktivitas sawit di Indonesia masih tertinggal jauh.

Sementara Malaysia sebagai produsen sawit terbesar kedua di dunia membuat kebijakan penangguhan bagi pajak ekspor. Hal tersebut membuat harga Crude Palm Oil (CPO) Malaysia yang sebelumnya sudah murah menjadi lebih murah.

Penangguhan pajak ekspor itu dilakukan mulai 8 Januari 2018 hingga 3 bulan ke depan. Penangguhan pajak itu ditujukan untuk menggenjot ekspor sehingga dapat mengurangi persediaan CPO yang tinggi.

Indonesia pun telah menerapkan Bea Keluar (BK) US$ 0 per metrik ton (MT). Hal itu ditentukan berdasarkan referensi harga CPO.

Namun, ekspor CPO Indonesia masih dikenai biaya pungutan. "Walaupun BK nol, tapi US$ 50 per ton CPO yang di ekspor tetap dipungut Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit," terang Andi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×