Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program bongkar ratoon (BR) yang digulirkan pemerintah mulai memberi dampak bagi petani tebu sekaligus mendukung target swasembada gula nasional. Program ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi tebu dengan target pengembangan lahan hingga 200.000 hektare.
Bagi petani, program tersebut membuka peluang meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya budidaya di tengah tekanan harga gula.
Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) yang juga Ketua KUD Sumber Bahagia Lumajang, Budi Susilo, mengatakan program bongkar ratoon memberi harapan baru bagi petani karena didukung pembiayaan pemerintah.
“Program ini memberi asa bagi petani karena bisa meningkatkan produksi sekaligus menekan biaya yang selama ini cukup besar,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (11/3/2025).
Baca Juga: Menakar Efek Pembatasan Impor Etanol terhadap Industri Gula Domestik
Awalnya banyak petani ragu terhadap program ini. Namun setelah bantuan mulai disalurkan pada November, minat petani meningkat tajam. Selain menjadi penerima bantuan bongkar ratoon, sebagian petani juga terlibat sebagai penyedia benih maupun mitra lahan untuk kebun sumber benih.
Dengan skema tersebut, manfaat ekonomi program tidak hanya dirasakan pada sisi produksi, tetapi juga pada rantai pasok benih tebu.
Di tingkat lapangan, dampak peningkatan produksi mulai terlihat. Ketua Kelompok Tani Asih Muzatani di Cirebon, Asih Samsinarsih, mengatakan kelompoknya mendapat bantuan bongkar ratoon untuk lahan seluas 15 hektare.
“Kami mendapat bantuan 61.200 mata benih per hektare serta dukungan HOK Rp4 juta. Produksi bisa naik menjadi sekitar 1.000 kuintal per hektare,” jelasnya.
Peningkatan serupa juga dirasakan petani di Lumajang. Virta Ma’afia Diniati dari Kelompok Tani Talang Sejahtera menerima bantuan untuk lahan satu hektare dengan paket 60.000 mata tunas.
“Produksi saya diperkirakan naik menjadi 1.500 kuintal per hektare. Sebelumnya sekitar 900 kuintal,” ujarnya.
Baca Juga: Impor Etanol Diperketat, Pelaku Usaha: Lindungi Petani dan Industri Gula Lokal
Ia berharap program tersebut berlanjut di tahun-tahun berikutnya, disertai tambahan dukungan seperti subsidi pupuk ZA dan bantuan alat mesin pertanian.
Di Lampung Tengah, Ketua Kelompok Tani Dwi Bhakti 06 Joko Setiyo juga merasakan manfaat serupa. Ia memperoleh bantuan bongkar ratoon untuk lahan 3 hektare dengan benih varietas GMP 07.
Menurutnya, program ini membantu meringankan beban biaya petani karena budidaya tebu membutuhkan modal besar.
Selain petani, program bongkar ratoon juga menghidupkan kembali sektor perbenihan tebu. Penyedia benih tebu Abdul Halik mengatakan selama tiga tahun terakhir aktivitas penyediaan benih sempat stagnan.
“Dengan adanya program ini, varietas unggul seperti NX, Panjalu, dan PSJT kembali disebarkan ke petani dengan potensi produktivitas di atas 1.000 kuintal per hektare,” katanya.
Di sisi industri, peningkatan produksi tebu juga membuka peluang menghidupkan kembali pabrik gula yang sempat berhenti beroperasi. Pembina petani tebu dari Majalengka, H. Didi Tarmadi, menilai ekspansi lahan berpotensi menambah pasokan tebu hingga 3.000 hektare di Jawa Barat.
Kondisi ini bisa memicu kelebihan pasokan jika tidak diimbangi kapasitas pengolahan.
Baca Juga: Program Truk Kopdes Dongkrak Permintaan LDT, Pabrikan Kewalahan Kejar Target
Karena itu, ia menyarankan pengembangan pabrik gula mini sebagai solusi jangka pendek sebelum pabrik gula besar diaktifkan kembali.
Didi juga menekankan pentingnya evaluasi independen terhadap tingkat rendemen tebu agar peningkatan varietas dan kualitas bahan tanam benar-benar tercermin pada hasil produksi gula di pabrik.
Jika terdapat selisih besar antara hasil pengujian dan data pabrik, menurutnya perlu ditelusuri apakah disebabkan efisiensi pabrik atau kurangnya transparansi dalam penjualan hasil tebu petani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













