kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   -260.000   -8,33%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Imlek - Ramadan Dongkrak Produksi dan Permintaan Industri Kemasan Plastik Hingga Kaca


Minggu, 01 Februari 2026 / 19:11 WIB
Imlek - Ramadan Dongkrak Produksi dan Permintaan Industri Kemasan Plastik Hingga Kaca
ILUSTRASI. Produksi Kemasan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri manufaktur mendongkrak utilisasi produksi demi menangkap peluang pertumbuhan permintaan pada kuartal I-2026. Ada dua momentum yang diprediksi bakal mengungkit konsumsi pada awal tahun ini, yakni Hari Raya Imlek dan bulan Ramadan yang akan dimulai pada pertengahan Februari 2026.

Salah satu industri yang mendulang berkah dari momentum tersebut adalah industri kemasan. Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono mengungkapkan dengan adanya Imlek serta Ramadan - Idulfitri, kuartal I-2026 bakal menjadi musim puncak (peak season) bagi industri plastik di dalam negeri.

Fajar memperkirakan kuartal I-2026 akan menjadi peak season dengan kontribusi mencapai lebih dari 35% terhadap total permintaan sepanjang tahun ini. Permintaan terhadap plastik kemasan terutama ditujukan untuk industri makanan dan minuman serta segmen pasar tradisional, dengan kontribusi sekitar 45% - 40%.

Guna menangkap peluang tersebut, Inaplas memotret kenaikan utilisasi produksi sudah terjadi sejak awal tahun ini. Pada Januari 2026, rata-rata tingkat utilisasi di sektor hulu melaju ke level 70% - 75%, yang sebelumnya masih di bawah 70%. Sementara di sektor hilir sudah kembali mendaki ke atas 60%.

Baca Juga: Industri Kemasan Lesu, Ramadan dan Lebaran Tak Jamin Bantu Pertumbuhan di Kuartal I

"Februari kami akan lihat, mungkin stabil atau terus meningkat dengan adanya sentimen positif. Tinggal pemerintah menjaga keseimbangan bagaimana mengatur arus bahan-bahan impor. Kuncinya juga ada di pengendalian impor," ujar Fajar saat dihubungi oleh Kontan.co.id, Minggu (1/2/2026).

Dihubungi terpisah, Direktur & Sekretaris Perusahaan PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), Lukman Hakim menyoroti potensi kenaikan permintaan selama Ramadan - Idulfitri. Emiten plastik kemasan yang mengusung merek Tomat, Sparta, dan Wayang ini masih menyasar segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pasar tradisional, terutama untuk produk makanan dan minuman.

Lukman belum merinci potensi pertumbuhan permintaan pada periode Ramadan tahun ini. Dia hanya menggambarkan bahwa biasanya para pelanggan atau toko-toko plastik sudah mulai menambah persediaan sejak beberapa bulan sebelum Ramadan.

"Untuk bulan Ramadan, pasti ada kenaikan konsumsi, yang mana akan meningkatkan penjualan. Ke depannya kami lebih (menargetkan) pertumbuhan yang stabil dengan mendukung industri kemasan untuk barang konsumsi, terutama makanan dan minuman," terang Lukman.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa memperkirakan pertumbuhan permintaan kemasan pada Imlek - Ramadan tahun ini tidak begitu signifikan, yakni hanya sekitar 5% - 8%. Henky mengingatkan agar industri kemasan mesti bisa beradaptasi agar utilisasi tetap bisa optimal.

Baca Juga: Strategi Alkindo (ALDO) Capai Target Pendapatan Tumbuh hingga 20% pada 2026

Industri kemasan mesti mengantisipasi gaya rantai pasok (supply chain) saat ini dengan perubahan strategi dan inovasi proses kemasan yang bertransformasi ke arah digitalisasi. "Tentunya dengan menyeimbangkan standar fungsional, biaya, nilai desain, ramah kesehatan dan lingkungan secara holistik," kata Henky.

Tak hanya bagi kemasan plastik, kemasan produk berbasis gelas kaca juga mengalap berkah dari momentum Ramadan  - Idulfitri.  Ketua Umum Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI), Henry T. Susanto mengatakan bahwa kenaikan permintaan tergantung dari segmentasi produk dan industri pelanggannya. 

Henry menggambarkan, kenaikan permintaan bisa terjadi beberapa bulan sebelum masa Ramadan, dengan rentang kenaikan sampai dengan 20%. "Kenaikan permintaan tergantung dari industrinya. Barang kemasan dari kaca yang paling banyak adalah untuk sirup, kecap, minuman kesehatan dan lainnya," ungkap Henry.

Secara keseluruhan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memotret adanya kenaikan produksi di sektor manufaktur. Tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang membuka tahun ini dengan lonjakan 2,22 poin secara bulanan ke level 54,12 pada Januari 2026.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan berdasarkan komponen pembentuk, IKI variabel pesanan baru pada Januari 2026 meningkat 2,51 poin secara bulanan menjadi 55,27. Lonjakan terjadi pada IKI variabel produksi yang mengalami kenaikan 6,45 poin, sehingga kembali ke zona ekspansi sebesar 54,86.

Hasil ini mengakhiri masa kontraksi IKI variabel produksi selama tujuh bulan beruntun. "Kami menilai peningkatan IKI terjadi karena pelaku industri mulai mengintensifkan kegiatan produksi untuk memenuhi peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadan, Hari Raya Idulfitri, serta hari raya keagamaan lainnya,” ungkap Febri.

Baca Juga: Industri Kemasan Nasional Masih Prospektif, IPF Prediksi Tumbuh 2%–3% pada Tahun 2025

Selanjutnya: Pembiayaan Berpotensi Naik Saat Ramadan, Amartha Terapkan Strategi Ini Jaga TWP90

Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×