Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut positif rencana pemerintah memberikan kredit berbunga rendah sebesar 6% untuk program peremajaan mesin industri tekstil, sepatu, dan manufaktur lainnya.
Pelaku industri menilai program tersebut dapat menjadi stimulus penting untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing industri padat karya di tengah tekanan global dan membanjirnya produk impor.
Ketua Dewan Pembina Aprisindo Eddy Widjanarko mengatakan, dukungan pembiayaan untuk restrukturisasi mesin merupakan langkah yang tepat bagi industri nasional.
“Program ini sangat bagus dan upaya untuk meremajakan mesin adalah salah satu bantuan yang tepat. Aprisindo sangat menghargai upaya ini dan semoga ke depan bisa lebih terjaga efisiensi,” ujar Eddy kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Baca Juga: Ifishdeco (IFSH) Incar Penjualan Rp 1 Triliun dan Akuisisi Tambang Nikel pada 2026
Sementara itu, Ketua Umum APSyFI Redma Wirawasta menilai skema pembiayaan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) cukup tepat karena memiliki fleksibilitas dari sisi aturan pembiayaan.
“Ini sangat bagus. Memang terakhir kami rapat di Kemenko diputuskan pemberian kredit untuk peremajaan mesin melalui LPEI, karena LPEI yang secara aturan masih bisa fleksibel,” ujar Redma kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, bunga kredit 6% akan mendorong pelaku industri melakukan modernisasi mesin. Namun, keputusan investasi tetap akan mempertimbangkan kondisi persaingan di pasar domestik, terutama terhadap produk impor ilegal dan dumping.
“Suku bunga 6% akan mendorong industri untuk meremajakan mesin, meski di sisi lain industri juga akan menghitung tingkat persaingannya dengan barang impor,” katanya.
Redma menilai potensi pertumbuhan kinerja industri akibat program tersebut masih sulit diprediksi. Sebab, tantangan utama industri tekstil saat ini bukan hanya pembiayaan, tetapi juga lemahnya perlindungan pasar domestik dari produk impor ilegal.
“Selama pemerintah masih memanjakan barang impor ilegal dan dumping, itu masih akan menjadi penghambat investasi,” ujarnya.
Karena itu, meskipun tersedia insentif bunga murah, pelaku usaha tetap akan menghitung ulang daya saing produk mereka sebelum memutuskan melakukan ekspansi maupun investasi mesin baru.
“Maka ketika ada insentif bunga murah, para pebisnis akan menghitung ulang lagi daya saing produk mereka dalam melawan barang ilegal dan dumping,” tambah Redma.
Di sisi lain, Ketua Umum Bidang Perdagangan Apindo Anne Patricia Sutanto menilai modernisasi mesin sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi industri nasional untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi energi, kualitas produk, hingga daya saing ekspor.
“Program ini menjadi langkah yang sangat strategis di tengah tekanan global, meningkatnya biaya produksi, serta persaingan dengan produk impor,” ujar Anne kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Baca Juga: APSyFI: Bunga Kredit 6% Jadi Stimulus Peremajaan Mesin Industri
Menurut dia, industri tekstil dan garmen nasional juga tengah menghadapi tuntutan sustainability, dekarbonisasi, dan implementasi industri 4.0 yang semakin menjadi perhatian buyer global.
Anne mencatat industri garmen dan tekstil masih menjadi sektor strategis dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 3,96 juta orang dan nilai ekspor mencapai US$ 12,08 miliar pada 2025.
Meski demikian, Apindo berharap implementasi program dapat dilakukan secara praktis, cepat, tepat sasaran, dan mudah diakses pelaku usaha. Berdasarkan paparan Kementerian Perindustrian, minat investasi industri untuk restrukturisasi mesin mencapai sekitar Rp 847 miliar, sedangkan alokasi program saat ini baru sekitar Rp 24 miliar.
“Efektivitas implementasi menjadi kunci. Insentif hanya akan berdampak apabila mudah diakses, konsisten, tepat sasaran, serta disertai mekanisme evaluasi yang terukur,” katanya.
Anne menambahkan, pelaku usaha diperkirakan memiliki minat tinggi memanfaatkan fasilitas pembiayaan tersebut. Sejumlah perusahaan bahkan disebut telah mulai mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk peremajaan mesin dan peningkatan infrastruktur produksi.
Apindo juga memperkirakan program ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, dan daya saing industri tekstil dan garmen nasional.
“Apabila program ini berjalan optimal, dampaknya tidak hanya pada peningkatan utilisasi industri dan ekspor manufaktur, tetapi juga terhadap penyerapan tenaga kerja, penguatan rantai pasok nasional, dan peningkatan kepercayaan investor,” imbuh Anne.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan memberikan kredit berbunga rendah bagi industri tekstil, sepatu, dan manufaktur lainnya untuk peremajaan mesin melalui LPEI.
Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk memetakan perusahaan yang membutuhkan peremajaan mesin dan dukungan pembiayaan. Menurut Purbaya, kontribusi sektor swasta terhadap perekonomian mencapai sekitar 90%, sehingga pemerintah perlu mendorong dunia usaha melakukan ekspansi lebih agresif melalui berbagai insentif dan kemudahan pembiayaan.
Baca Juga: Perhapi Soroti Keluhan Kadin China, Berpotensi Pangkas Outlook Industri Tambang RI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













