kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

APSyFI: Bunga Kredit 6% Jadi Stimulus Peremajaan Mesin Industri


Senin, 18 Mei 2026 / 19:03 WIB
APSyFI: Bunga Kredit 6% Jadi Stimulus Peremajaan Mesin Industri
ILUSTRASI. Proses Sizing Benang di Pabrik PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menyambut positif rencana pemerintah memberikan kredit berbunga rendah sebesar 6% untuk peremajaan mesin industri tekstil, sepatu, dan sektor manufaktur lainnya.

Program tersebut dinilai dapat menjadi stimulus penting bagi industri untuk melakukan modernisasi mesin produksi di tengah tekanan persaingan global yang semakin ketat.

Baca Juga: Isuzu Belum Berencana Kerek Harga Jual Meski Rupiah Melemah

Ketua Umum APSyFI Redma Wirawasta mengatakan, skema pembiayaan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dinilai tepat karena memiliki fleksibilitas dari sisi regulasi pembiayaan.

“Ini sangat bagus. Memang terakhir kami rapat di Kemenko diputuskan pemberian kredit untuk peremajaan mesin melalui LPEI, karena LPEI yang secara aturan masih bisa fleksibel,” ujar Redma kepada Kontan.co.id, Senin (18/5/2026).

Menurut Redma, bunga kredit sebesar 6% berpotensi mendorong pelaku industri melakukan investasi peremajaan mesin.

Namun, keputusan investasi tetap sangat dipengaruhi kondisi persaingan di pasar domestik, terutama maraknya produk impor.

“Suku bunga 6% akan mendorong industri untuk meremajakan mesin, meski di sisi lain industri juga akan menghitung tingkat persaingannya dengan barang impor,” katanya.

Baca Juga: Perhapi Soroti Keluhan Kadin China, Berpotensi Pangkas Outlook Industri Tambang RI

Meski demikian, APSyFI menilai tantangan utama industri tekstil saat ini tidak hanya berasal dari sisi pembiayaan, tetapi juga lemahnya perlindungan pasar domestik terhadap produk impor ilegal dan praktik dumping.

“Selama pemerintah masih memanjakan barang impor ilegal dan dumping, itu masih akan menjadi penghambat investasi,” ujar Redma.

Karena itu, sekalipun tersedia insentif bunga murah, pelaku usaha disebut tetap akan mempertimbangkan ulang daya saing produk mereka sebelum memutuskan melakukan ekspansi maupun investasi mesin baru.

“Maka ketika ada insentif bunga murah, para pebisnis akan menghitung ulang lagi daya saing produk mereka dalam melawan barang ilegal dan dumping,” tambahnya.

Baca Juga: BP-AKR Buka Suara Soal Pasokan dan Harga BBM, Harap Iklim Usaha Tetap Terjaga

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan menyediakan kredit berbunga rendah bagi industri tekstil, sepatu, dan sektor manufaktur lainnya guna mendukung peremajaan mesin produksi. Program tersebut akan disalurkan melalui LPEI.

Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk memetakan perusahaan yang membutuhkan dukungan pembiayaan dan peremajaan mesin.

Menurut Purbaya, kontribusi sektor swasta terhadap perekonomian nasional mencapai sekitar 90%.

Karena itu, pemerintah akan lebih aktif mendorong ekspansi dunia usaha melalui berbagai insentif dan kemudahan pembiayaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×