kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.965
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Pulau Dewata diprediksi akan menghadapi defisit listrik


Kamis, 27 Juni 2019 / 12:42 WIB

Pulau Dewata diprediksi akan menghadapi defisit listrik
ILUSTRASI. Pusat Pengaturan Beban PLN

KONTAN.CO.ID - BALI. Kondisi kelistrikan daerah Bali mengkhawatirkan. Tercatat, mulai tahun 2021 Pulau Dewata ini akan mengalami defisit listrik. Karena maklum saja, jumlah pelanggan yang terus meningkat tidak dibarengi dengan pengembangan pembangkit listrik.

Mengacu data PT PLN Distribusi Bali. Di tahun 2021, beban listrik akan mencapai sekitar 1.041 megawatt (MW). Hanya saja, daya mampu pembangkit yang dihasilkan untuk kebutuhan pasokan listrik Bali mencapai 1.274 MW. Kebutuhan listrik itu pun 340 MW-nya berasal dari kabel bawah laut 150 kV Pulau Jawa. 


"Jadi jika ada satu pembangkit listrik yang dalam pemeliharaan pasti akan ada  pemadaman. Tentunya mengurangi pasokan," terang General Manager PLN Distribusi Bali, Nyoman Suwarjoni Astawa, dalam diskusinya bersama Media, di Denpasar.

Sulitnya membangun pembangkit listrik berkapasitas jumbo, lantaran saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menginginkan bahwa Pulau Dewata ini menggunakan pembangkit energi bersih atau energi baru dan terbarukan (EBT). 

Karena asal tahu saja, kapasitas pembangkit listrik EBT rata-rata tidak terlalu besar. Nah, saat ini PLN tengah mengadakan lelang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yakni PLTS Bali Timur berkapasitas 25 MW dan PLTS Bali Barat 25 MW.

"Tapi PLTS tidak menambah kapasitas terpasang. Jadi Bali akan alami masa-masa kritis karena tidak rencana pembangunan pembangkit besar di Bali," ungkapnya

Nah, untuk solusi jangka pendek, lanjut Astawa, PLN lewat anak usahanya yaitu PT Indonesia Power mengubah pembangkit berbahan bakar BBM dengan gas. Seperti misalnya,  memindahkan mobile power plant di Lombok ke Bali atau Marine Vessel Power Plant dari Kupang untuk memperkuat pasokan Bali.

Transimis 500 kV dikebut

Dan, solusi lainnya yaitu membangun jaringan transmisi 500 kV Jawa Bali Connection. Melalui kabel listrik ini, Bali akan mendapatkan pasokan listrik sebesar 1.600 MW dari Jawa.

Menurut dia, pembangunan Jawa Bali Connection ini lebih efisien ketimbang membangun pembangkit baru di Bali. Sebab, untuk membangun pembangkit dengan kapasitas 1.600 MW bisa menelan biaya Rp 60 triliun, sementara biaya bangun Jawa Bali Connection jauh lebih rendah.

"Proyeknya akan dilelang 2021 ditargetkan 2024 sudah selesai dibangun," katanya.

Asal tahu saja, proyek ini sebenarnya sudah bergulir sejak 2016 lalu dengan nama Jawa Bali Crossing. Namun adanya sejumlah kendala termasuk penolakan dari masyarakat membuat proyek ini terus tertunda.

Nyoman bilang, ada dua alasan penolakan masyarakat yaitu lokasi tower yang dekat Pura Segara Rupek sehingga dikhawatirkan merusak kesucian pura. Kedua, yaitu adanya kepercayaan sebagian orang yang menyatakan dulu Jawa dan Bali bersatu, lalu dipisahkan sekarang tidak boleh disatukan lagi lewat udara.


Reporter: Pratama Guitarra
Editor: Yoyok
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.6612 || diagnostic_web = 21.7829

Close [X]
×