kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.681   54,00   0,31%
  • IDX 6.535   -6,68   -0,10%
  • KOMPAS100 866   8,07   0,94%
  • LQ45 659   9,32   1,43%
  • ISSI 225   -2,18   -0,96%
  • IDX30 366   5,04   1,40%
  • IDXHIDIV20 458   8,21   1,83%
  • IDX80 99   1,17   1,20%
  • IDXV30 126   0,85   0,68%
  • IDXQ30 118   2,25   1,94%

Rencana Raksasa Aluminium Rusia Masuk Indonesia, Pengamat Soroti Nilai Tambah


Senin, 14 September 2026 / 18:24 WIB
Rencana Raksasa Aluminium Rusia Masuk Indonesia, Pengamat Soroti Nilai Tambah
ILUSTRASI. Aluminum ingots (Yaroslav Belyaev/TASS via REUTERS)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana raksasa aluminium asal Rusia, UC Rusal, untuk menginvestasikan dana dalam pembangunan fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina di Indonesia dinilai sebagai langkah strategis.

Kendati demikian, Pemerintah diminta tetap mengawal ketat proyek tersebut agar tidak berhenti pada tahap pengolahan setengah jadi semata.

Pengamat Energi dari Universitas Indonesia (UI), Iwa Garniwa mengungkapkan, masuknya produsen aluminium dunia di tengah sanksi global membuktikan Indonesia masih menjadi tujuan utama investasi. 

Menurutnya, proyek ini berpotensi menjadi alternatif rantai pasok global di luar dominasi China sekaligus meningkatkan posisi tawar Indonesia.

"Ini langkah strategis yang sangat positif, tapi harus dikawal agar tidak jadi ekspor bauksit berkedok hilirisasi. Kuncinya bukan hanya bangun pabrik, kita harus pastikan TKDN tinggi yaitu kontraktor, engineering, tenaga kerja lokal," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (14/9/2026).

Baca Juga: Bahlil Ungkap UC Rusal Bakal Bangun Pabrik Alumina di Kalimantan

Iwa menjelaskan, daya tarik investasi pengolahan alumina di dalam negeri tergolong tinggi bagi investor global. Tingkat pengembalian modal atau Internal Rate of Return (IRR) proyek alumina di Indonesia tercatat mampu mencapai kisaran 14% hingga 18% selama kepastian lokasi, pasokan energi, dan kontrak penjualan terjamin.

Meski demikian, Iwa mengingatkan agar pengembangan smelter tersebut tidak difasilitasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara. Ia mendesak adanya komitmen penggunaan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di atas 30% serta dorongan agar Rusal melanjutkan integrasi hingga ke produk aluminium ingot atau billet.

"Bukan hanya alumina grade smelter saja dorong Rusal sekalian ke aluminium ingot/aluminium billet. Karena nilai tambah alumina ke aluminium naik hampir 3x lipat. Jangan sampai smelter ini pakai PLTU batubara, harus ada komitmen pakai baur EBT lebih dari 30%. Kalau tidak, kita hanya pindah emisi dari negara lain ke Indonesia," katanya.

Baca Juga: UC Rusal Bakal Bangun Pabrik Alumina di Indonesia, Ekonom Ingatkan Tiga Faktor Ini

Menyoroti ekosistem hulu-hilir saat ini, Iwa menilai, kondisinya masih belum seimbang karena 90% alumina nasional masih diekspor ke China tanpa diolah lebih lanjut. Ketimpangan ini memicu bottleneck di mana Indonesia mengekspor alumina murah namun harus mengimpor aluminium mahal untuk industri manufaktur domestik.

Guna mengatasi persoalan tersebut, Iwa merekomendasikan tiga langkah utama bagi pemerintah, yakni penerapan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) aluminium sebesar 30%, penyediaan paket investasi terintegrasi dari hulu ke hilir, serta pemberian insentif penyerapan produk aluminium lokal pada sektor industri hilir.

"Masuknya Rusal itu good news. Tapi kita jangan sampai terulang seperti nikel jago di NPI, tapi kalah distainless steel dan baterai. Sebagai target akhir atau cita-cita bauksit Indonesia menjadi aluminium hijau Indonesia dan diekspor sebagai mobil listrik dan panel surya Made in Indonesia," pungkasnya.

Baca Juga: UC Rusal Masuk Hilirisasi Bauksit, Pushep Soroti Integrasi dan Peran Lokal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×