Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana investasi raksasa aluminium asal Rusia, UC Rusal, untuk membangun fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina di Indonesia dinilai menjadi angin segar bagi industri pertambangan nasional.
Prospek hilirisasi komoditas ini tergolong sangat menjanjikan seiring tingginya pasokan bahan baku domestik serta lonjakan permintaan alumina maupun aluminium di pasar dalam negeri.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar menilai, masuknya investasi skala global tersebut membawa angin segar dari sisi modal, alih teknologi, hingga pengalaman industri.
Kendati demikian, pemerintah diminta tidak sekadar menghentikan fokus pada komitmen di atas kertas, melainkan mengawal eksekusi proyek serta memastikan keterlibatan pelaku usaha lokal.
Baca Juga: PRAY Targetkan Miliki 21 Jaringan Rumah Sakit hingga Akhir 2026
"Bagus ini, investasi Rusal tersebut bisa jadi sinyal positif karena membawa modal, teknologi, dan pengalaman global ke industri bauksit Indonesia. Tetapi jangan sampai hanya rencana saja, pemerintah perlu memastikan proyek ini benar-benar jalan dan bisa realisasi serta lebih bagus lagi kalo bisa melibatkan pelaku usaha nasional," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (14/9/2026).
Bisman mengungkapkan, potensi daya tarik investasi di sektor hilirisasi bauksit domestik saat ini masih berada dalam tren positif. Dorongan kebutuhan pasar domestik yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi nasional menjadi alasan kuat bagi investor luar negeri untuk menanamkan modalnya pada pengembangan pengolahan komoditas tambang ini.
"Investasi hilirisasi bauksit di Indonesia itu sangat menarik. Prospeknya sangat bagus karena Indonesia memiliki sumber daya bauksit besar dan kebutuhan alumina serta aluminium domestik masih tinggi. Selain itu tren investasi bauksit terus naik signifikan," ungkapnya.
Kendati potensi pasarnya terbuka lebar, Bisman menyoroti pekerjaan rumah besar yang masih mengganjal ekosistem industri hulu hingga hilir di tanah air.
Menurutnya, mata rantai industri dari hulu pertambangan, pabrik pemurnian (refinery), hingga pemrosesan produk akhir aluminium saat ini belum sepenuhnya terhubung secara efisien dan terintegrasi.
"Ekosistemnya udah terbentuk mulai dari tambang bauksit, refinery alumina hingga industri aluminium, tetapi masalahnya belum sepenuhnya terintegrasi, ini memang perlu jadi PR pemerintah untuk mendorong terintegrasi," tutur Bisman.
Bisman menambahkan, tantangan utama sektor ini tak lagi terletak pada serapan pasar yang sudah pasti tinggi. Pemerintah dituntut untuk menjamin jaminan pasokan bahan baku yang berkelanjutan serta mendorong pemanfaatan industri turunan secara optimal agar nilai tambah perekonomian yang dihasilkan dari agenda hilirisasi bisa dirasakan lebih maksimal.
"Kalau soal serapan pasar, untuk domestik masih sangat terbuka karena kebutuhan aluminium nasional masih besar. Jadi tantangannya itu justru bagaimana memastikan pasokan bahan baku secara berkelanjutan dan memperkuat industri turunan agar hasil hilirisasi agar nilai tambahnya makin besar," pungkasnya.
Baca Juga: Antrean Mengular di SPBU Sejumlah Wilayah, YLKI: Panic Buying Bukan Alasan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














