kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Respons asosiasi perikanan atas kedatangan Itochu


Senin, 28 Agustus 2017 / 16:50 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - Bahan baku industri pengolahan ikan masih kurang untuk memenuhi kapasitas produksi. Utilitas industri pengolahan ikan masih sekitar 50%. 

"Berdasarkan Data Kementerian Perindustrian, Indonesia masih kekurangan bahan baku ikan sekitar 1,7 juta ton," ujar Budhi Wibowo, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) kepada KONTAN pada Senin (28/8).

Budhi bilang, perlu ada penambahan bahan baku. Jika tidak, kedatangan pengolahan ikan besar yang baru akan menyulitkan industri lain. 

Hal tersebut diungkapkan sebagai respon masuknya perusahaan asal Jepang ke Indonesia. Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memgungkapkan bahwa Itochu, perusahaan pengolahan ikan asal Jepang akan merelokasi pabriknya yang ada di Thailand ke Indonesia.

"Itochu akan memindahkan pabrik pengolahan ikannya dari Thailand ke Indonesia karena ketiadaan raw material di Thailand," ujar Susi, Jumat pekan lalu (25/8).

Menurut Susi, Itochu akan membuka pabrik di Indonesia karena butuh banyak bahan baku ikan. Hal tersebut dapat dipenuhi dari perikanan Indonesia.

Ikan yang menjadi kebutuhan dari Itochu adalah ikan tuna, ikan kakap, udang dan gurita. Susi mengungkapkan bahwa gurita paling banyak berada di Indonesia. "Saat ini gurita yang paling banyak ada di Indonesia, stok di Afrika sudah hampir habis," terang Susi

Mengenai investasi belum ada angka berapa besar investasi yang akan diberikan ke Indonesia. Namun, rencananya akan ada kunjungan dari Jepang pada bulan September terkait masalah teknis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×