kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45796,59   20,69   2.67%
  • EMAS934.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.03%
  • RD.CAMPURAN 0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Reza nahkoda baru bisnis migas Hatta Rajasa


Senin, 07 Maret 2016 / 16:51 WIB
Reza nahkoda baru bisnis migas Hatta Rajasa

Reporter: Azis Husaini | Editor: Azis Husaini

JAKARTA. Bisnis minyak dan gas bumi rupanya juga menekan perusahaan-perusahaan di sektor jasa penunjang migas. Tidak terkecuali perusahaan milik Hatta Rajasa yang sudah berdiri sejak 15 Oktober 1982. Namun, bagi Arthindo Grup khususnya PT Arthindo Utama resesi di industri migas sudah dialaminya tiga kali. Bahkan ketika harga minyak SU$ 17 per barel pun sudah pernah dilalui perusahaan. Kini Nahkoda baru perusahaan sudah diberikan ke anak sulungnya.

Meski Hatta Rajasa sudah membangun Arthindo Grup sejak lama, rupanya putra sulungnya Muhammad Reza Ihsan Rajasa alias Reza Rajasa mengawali karir bukan di perusahaan keluarga, tetapi di sebuah perusahaan terbuka berfokus bisnis pipa migas di Amerika Serikat. Tak lama bekerja di sana, Reza tahun 2008 pulang ke Indonesia.

Berbekal pengalamannya bekerja di perusahaan besar, ada mimpi yang besar sepulang dari sana. Namun, di Indonesia rupanya sulit menjadi pebisnis, akhirnya Reza diajak seorang teman untuk berbisnis di sektor migas dengan karyawan hanya 6 orang. "Saya yang angkat telepon sendiri, nge-fax, sampai apa-apa sendiri," kata dia ke KONTAN di Hotel Dharmawangsa, Jumat (4/3).

Setelah tak lama bekerja dengan temannya, Reza akhirnya berkarir di PT AKR Corporindo Tbk selama 2,5 tahun, jabatan pertamanya adalah manajemen traning dan terakhir sales operation. Setelah dari sana, salah satu direksi Arthindo Grup mengajaknya bekerja di perusahaan keluarga."Saya diajak 2009 ke perusahaan bapak (Hatta Rajasa), jabatan waktu itu manager," ungkap dia.

Sebagai anak muda dengan lulusan Amerika Serikat plus IPK Cumlaude, Reza pernah berdebat dengan ayahnya soal alat pemboran, Reza waktu itu mengatakan bahwa kita memerlukan peralatan sistim pencegahan semburan liar (Blow Out Preventer) di lokasi Salawati dengan diameter 12,5 inci. "Bapa bilang itu ukurannya 12,3/4 inci bukan 12,5 inci. Saya bilang 12,5 inci, bapa langsung bilang coba kamu ke site," terangnya.

Setelah itu, Reza meluncur ke Papua dan rupanya memang ukuran BOP itu 12,3/4. Akibat salah memprediksi itu, Reza diminta seminggu di Papua. "Saya di sana disuruh liatin baut doang," ujar dia mengenang saat pertama menjadi manager di Arthindo Grup. 

Dia mengatakan, saat kembali ke Jakarta, dirinya mendapat pesan, bahwa pekerjaan ini tidak boleh salah sebab akan mengakibatkan pada semburan minyak dan gas di lokasi dan mengancam keselamatan para pekerja. Dari pengalaman itulah kemudian Reza selalu detil melihat alat-alat yang dipakai dalam pengeboran migas. Saat ini Arthindo Grup memiliki sembilan rig, empat di Duri milik Chevron dan lainnya di beberapa tempat lokasi migas termasuk di Salawati. "Kami sudah menjadi kontraktor di Chevron sejak 1995 sampai sekarang," kata pria lulusan Mechanical Engineering Drexel University, Philadelphia, Amerika Serikat.

Setelah bergabung selama lima tahun, Reza kemudian memegang kendali Arthindo Grup dengan menjadi Managing Director. Meski tak bisa disamakan dengan para pebisnis lain yang lebih banyak pengalaman, setidaknya kata Reza dirinya sudah menjalani beberapa pengalaman di bisis migas, terutama pengalaman menjelajah Indonesia. "Saya sudah pernah ke semua daerah," kata dia. Pekerjaan di bisnis migas memang memaksa Reza untuk mengenal medan.

Saat ini menurut Reza, bisnis migas memang sedang lesu, namun bagi perusahaan ini adalah kali ketiga terjadinya gejolak harga di industri minyak. "Kami sudah terkena resesi tiga kali, pernah harga minyak US$ 17 per barel," kata dia. Maka dari itu, dengan harga minyak US$ 30 per barel, setidaknya perusahaan sudah memiliki cara untuk bertahan.

Termasuk kata Reza, bila melakukan rapat untuk membahas soal tender, beberapa direksi memilih rapat di Musola kantor.  "Saya waktu pertama kali ikut, kok di Musola? belakangan dengan rapat di Musola kita selalu menang tender," ungkap dia. 

Tradisi rapat di Musola sudah dijalankan sejak Hatta Rajasa membangun perusahaan tersebut dan sampai sekarang menjadi budaya yang tak bisa dilepaskan dalam kegiatan perusahaan. "Ada tiga pesan bapa dalam bisnis, jujur, jujur, jujur," imbuh dia. Bila sudah menjalankan kejujuran maka ada tangan Allah yang akan membantu dalam bisnis.

Dia mengatakan, perusahaan saat ini sedang melakukan efesiensi internal, namun tak sampai untuk melakukan pemecatan kepada karyawan, tetapi memang beberapa pekerjaan disinergikan guna melakukan efesiensi. 

Bisnis batubara

Selain memiliki bisnis migas dengan bendera PT Arthindo Utama, perusahaan milik Hatta Rajasa juga memiliki tambang batubara di Kalimantan Tengah yang belum dieksplotasi dengan nama perusahaan Arthasia Cipta Pratama. Saat ini kata Reza tambang milik perusahaan tersebut belum ditambang lantaran harga jual batubara sedang jatuh. Adapun kalori di dalam tambang tersebut 6.500 kkal/kg yang merupakan batubara kalori tinggi. "kebutuhan ekspor, tetapi juga bisa di blending di sini," ujar dia.

Selain itu, kata Reza anak usaha lainnya juga bergerak di bisnis batubara tetapi khusus penjualan batubara yakni PT Artha Daya Coalindo. Perusahaan adalah pemasok batubara bagi PT Indonesia Power di Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya. Di akhir tahun 2012 perusahaan merintis usaha pengelolaan pelabuhan (Port Management) di pelabuhan terbatas UBP Suralaya. "Pasokan ke Suralaya 2-3 juta ton per tahun," kata dia.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×