Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus mendorong pengembangan logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) di Indonesia, salah satunya melalui kegiatan eksplorasi di Mamuju, Sulawesi Barat.
Namun, pengembangan industri pengolahan LTJ di dalam negeri masih menghadapi tantangan keekonomian.
Pada tingkat harga saat ini, margin dari pengolahan LTJ dinilai masih tipis dan belum cukup untuk menopang investasi pembangunan pabrik yang nilainya bisa mencapai ratusan juta dolar AS.
Baca Juga: Tracon Industri Perkuat Bisnis Berkelanjutan Lewat Pemberdayaan
Peneliti Ekonomi Energi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti mengatakan, keekonomian proyek pengolahan LTJ dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari harga jual produk, biaya pembangunan pabrik, hingga biaya pengolahan dan pengelolaan limbah torium.
Menurut Yayan, kondisi tersebut membuat ketersediaan bahan baku dalam jumlah besar belum otomatis menjamin proyek pengolahan LTJ dapat berjalan secara ekonomis.
Pasalnya, peningkatan kapasitas produksi juga harus diimbangi dengan kemampuan menjual produk bernilai tinggi dan mengendalikan biaya investasi maupun operasional.
"Kendala utamanya kelayakan pendanaan, bukan geologi," imbuh Yayan kepada Kontan, Kamis (5/11/2026) malam.
Yayan menambahkan, salah satu faktor yang menentukan keekonomian proyek adalah harga neodimium dan praseodimium (NdPr), dua unsur LTJ yang digunakan untuk membuat magnet permanen. Selain harga jual, besarnya investasi pembangunan pabrik dan biaya pengolahan juga menjadi pertimbangan penting.
Dari sisi ketersediaan bahan baku, Indonesia sebenarnya telah memiliki potensi sumber daya LTJ yang tersebar di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2024, Indonesia memiliki sumber daya sekitar 136,2 juta ton bijih yang mengandung 118.650 ton logam LTJ.
Namun, angka tersebut belum seluruhnya berstatus terukur. Dari total kandungan logam tersebut, sebanyak 114.236 ton masih berstatus tereka, 3.317 ton berstatus tertunjuk, dan hanya 1.097 ton yang telah berstatus terukur. "Sementara itu, Indonesia belum memiliki cadangan LTJ secara resmi," kata Yayan.
Baca Juga: PLN Targetkan Tambahan Kapasitas Pembangkit Gas 6.529 MW hingga 2034
Badan Geologi sendiri telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial LTJ di Indonesia. Salah satu wilayah dengan potensi monasit dan senotim adalah Bangka Belitung. Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2023, wilayah tersebut memiliki potensi monasit sekitar 186.663 ton dan senotim 20.734 ton.
Selain itu, Mamuju, Sulawesi Barat, juga menjadi salah satu wilayah yang dikembangkan. Hasil eksplorasi pada 2022 menunjukkan kadar LTJ di wilayah tersebut mencapai sekitar 4.571 bagian per juta (ppm).
Saat ini, PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) tengah melanjutkan eksplorasi melalui pengeboran untuk memperinci potensi sumber daya di wilayah tersebut. Perusahaan menargetkan penyelesaian 200 titik pengeboran pada 2027.
Yayan menilai, peningkatan status sumber daya menjadi cadangan merupakan tahapan penting untuk membuka akses pendanaan pengembangan industri LTJ.
"Langkah pertama adalah mengubah sumber daya menjadi cadangan lewat pengeboran rapat, uji metalurgi, dan studi kelayakan. Tanpa cadangan bersertifikat, bank dan investor sulit membiayai pabrik," tandas Yayan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
