Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri waralaba dan kemitraan di Indonesia masih memiliki peluang untuk berkembang. Namun, pertumbuhan bisnis ini cenderung melambat di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Calon mitra pun semakin selektif dalam memilih merek, terutama dengan mempertimbangkan kebutuhan investasi dan keberlanjutan bisnis.
Public Relations Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Fredy Ferdianto mengatakan, industri waralaba masih menunjukkan pertumbuhan, meski tidak signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya kondusif membuat pengusaha maupun calon investor cenderung menahan pengeluaran dan lebih berhati-hati dalam mengalokasikan modal.
Menurut Fredy, kondisi tersebut terlihat dari transaksi dalam pameran waralaba yang masih berlangsung dan penambahan mitra usaha. Namun, pertumbuhannya tidak sebesar periode sebelumnya. Calon mitra juga cenderung memilih bisnis dengan kebutuhan investasi lebih terjangkau atau merek yang sudah dikenal dan memiliki keberlanjutan usaha.
Baca Juga: Survei BI: Penjualan Properti residensial di Pasar Primer Turun di Kuartal III 2026
"Di pameran kami (Info Franchise & Business Concept Expo (IFBC) 2026) alhamdulillah tetap ada transaksi dan penambahan mitra, namun tidak signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin mereka yang berwirausaha masih pilih-pilih, mereka memilih yang investasinya lebih terjangkau," ujar Fredy kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Dia menambahkan, calon mitra juga semakin memperhatikan rekam jejak dan keberlanjutan merek sebelum memutuskan untuk bergabung. Hal ini menjadi pertimbangan penting di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Dari sisi asosiasi, Fredy menyebut jumlah kemitraan masih berpotensi bertambah, tetapi belum tumbuh signifikan. Dia mencontohkan, penambahan mitra pada jaringan usaha yang sudah besar tetap terjadi. Namun, perkembangan tersebut perlu dilihat bersama jumlah gerai atau mitra yang tutup.
"Misalnya kalau Indomaret punya mitra, mungkin bertambah, tapi kan kita juga tidak tahu berapa yang tutup," katanya.
Sementara itu, pengamat waralaba Djoko Kurniawan menilai, bisnis waralaba dan kemitraan saat ini masih berjalan relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, tidak semua merek mencatatkan perkembangan yang sama. Ada merek yang mengalami kemunduran, sementara sejumlah merek lain justru mampu meningkatkan bisnisnya.
Djoko menyebut, belum tersedia data pasti mengenai perputaran uang industri waralaba dan kemitraan sepanjang 2026. Berdasarkan pengamatannya terhadap pameran yang dilakukan Himpunan Kemitraan & Peluang Usaha Franchise Indonesia (HIKPI), aktivitas bisnis waralaba dan kemitraan relatif stabil dibandingkan tahun lalu.
Dia juga mengingatkan bahwa tidak seluruh bisnis yang menggunakan skema kemitraan dapat dikategorikan sebagai waralaba. Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan yang disampaikan Djoko, jumlah bisnis waralaba asli Indonesia hanya sekitar 200.
Baca Juga: Industri Mamin Diproyeksi Tumbuh di Atas 6% pada Tahun Ini
Menurut Djoko, salah satu tantangan yang dihadapi pelaku bisnis waralaba saat ini adalah kejenuhan pasar. Merek yang tidak melakukan inovasi cenderung mengalami kemunduran karena produk atau konsep bisnisnya tidak lagi cukup menarik bagi konsumen. Sebaliknya, merek yang mampu menghadirkan kreativitas dan pembaruan masih diminati calon mitra dan berpeluang bertumbuh.
"Produk waralaba atau kemitraan yang tidak ada inovasi memang mengalami kemunduran karena market sudah jenuh, namun brand yang kreatif tetap dicari mitra dan tetap bisa bertumbuh," jelas Djoko.
Dari sisi sektor usaha, kuliner masih menjadi salah satu pilihan utama dalam bisnis waralaba. Fredy menyebut sektor pendidikan dan wellness juga masih menarik, termasuk usaha perawatan kecantikan, layanan kesehatan, hingga kebugaran atau fitness.
Menurut dia, ketiga sektor tersebut memiliki basis permintaan yang relatif dekat dengan kebutuhan masyarakat. Bisnis kuliner, misalnya, ditopang kebutuhan konsumsi sehari-hari, sementara sektor pendidikan informal menjadi pelengkap pendidikan formal anak. Adapun wellness berkembang seiring kebutuhan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.
Djoko juga melihat sektor makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) masih menjadi pilihan utama calon mitra, disusul pendidikan dan lifestyle. Namun, peluang di sektor-sektor tersebut tetap bergantung pada kemampuan merek dalam membaca kebutuhan konsumen dan melakukan inovasi.
Di sisi lain, pelaku waralaba menghadapi sejumlah tantangan yang dapat mempengaruhi keberlanjutan usaha. Fredy menyoroti kenaikan harga bahan baku, bahan bakar minyak (BBM), inflasi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya operasional.
Dia menjelaskan, meskipun sebagian besar kebutuhan bahan baku pelaku usaha telah dipenuhi dari dalam negeri, masih ada bahan baku yang harus diimpor. Perubahan nilai tukar rupiah pun dapat mempengaruhi biaya pengadaan bahan baku tersebut. Kenaikan BBM juga berimbas terhadap biaya pengiriman dan distribusi.
Selain faktor biaya, perbedaan regulasi antara pemerintah pusat dan daerah turut menjadi tantangan bagi pengembangan gerai. Fredy mencontohkan ketentuan pengelolaan parkir di sejumlah daerah, termasuk Surabaya, yang dapat menambah beban operasional pengusaha waralaba.
Dalam ketentuan yang ia contohkan, pengusaha waralaba perlu menyediakan juru parkir sendiri dan menanggung biaya penggajiannya. Kondisi tersebut menjadi tambahan beban bagi pemilik merek, terutama ketika mereka ingin memperluas jaringan gerai ke berbagai daerah.
Menurut Fredy, bisnis dengan kebutuhan investasi tinggi cenderung lebih rentan ketika ekspansi terhambat oleh perbedaan aturan daerah dan tambahan biaya operasional. Sektor ritel menjadi salah satu bidang yang dapat menghadapi tantangan tersebut.
Untuk mendorong pertumbuhan industri, AFI turut mendukung program pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan dan Kementerian UMKM dalam pengembangan kewirausahaan melalui waralaba. Fredy menyebut, pemerintah memiliki target pertumbuhan sebesar 5% pada tahun ini, dan AFI berupaya mendukung pencapaian target tersebut.
Upaya itu dilakukan melalui pengembangan pelaku usaha lokal agar dapat naik kelas menjadi pemberi waralaba, sekaligus mendorong waralaba asing yang masuk ke Indonesia untuk memenuhi ketentuan pendaftaran. Salah satu aspek yang ditekankan adalah kepemilikan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) bagi bisnis yang menawarkan skema waralaba.
Fredy mengatakan, AFI juga terus mengedukasi calon mitra agar menerapkan prinsip 2L, yakni legal dan logis, sebelum memutuskan untuk bergabung dengan suatu merek. Calon mitra perlu memastikan legalitas bisnis serta menilai kewajaran penawaran dan proyeksi usaha yang diberikan pemilik merek.
Saat ini, Fredy menyebut AFI memiliki sekitar 85 anggota yang berstatus waralaba. Selain itu, terdapat lebih dari 200 anggota yang bergerak dalam kategori peluang usaha atau non-waralaba.
Selain edukasi, program kewirausahaan seperti Wirausaha Purnabakti juga dinilai dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan bisnis waralaba. Program tersebut membuka peluang bagi masyarakat yang memasuki masa purnabakti untuk memulai usaha, sekaligus menjadi kesempatan bagi pemilik merek untuk menjaring mitra baru.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Djoko menilai skema waralaba dan kemitraan masih menarik sebagai model ekspansi bisnis. Melalui skema ini, pemilik merek dapat memperoleh tambahan modal sekaligus menggandeng mitra lokal yang memiliki jaringan di wilayah operasionalnya. Hal tersebut dapat membantu mempercepat pengembangan usaha dibandingkan membuka cabang sendiri.
Namun, bagi calon mitra, kehati-hatian tetap menjadi hal utama. Djoko mengingatkan agar calon investor tidak hanya terpikat oleh proyeksi keuntungan yang ditawarkan pemilik merek, tetapi juga memeriksa kesesuaian analisis bisnis dengan kondisi operasional sebenarnya.
"Mitra harus tetap berhati-hati dalam memilih bisnis yang akan mereka ambil. Pastikan analisa bisnis yang ditawarkan sama dengan kenyataan di lapangan. Jangan sampai tertipu janji-janji yang terlalu muluk," kata Djoko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
