kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Segmen Rumah Menengah Masih Jadi Penopang Pasar Properti, Ini Kata JLL Indonesia


Selasa, 12 Mei 2026 / 14:40 WIB
Segmen Rumah Menengah Masih Jadi Penopang Pasar Properti, Ini Kata JLL Indonesia
ILUSTRASI. Rumah di atas Rp 3 miliar kini jadi tantangan besar bagi pengembang.


Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. JLL Indonesia melihat pelemahan rupiah dan ketidakpastian geopolitik global mulai memberi tantangan terhadap sektor properti nasional. Meski begitu, pasar residensial dinilai masih memiliki daya tahan, terutama pada segmen rumah menengah. ​

Head of Property & Asset Management JLL Indonesia, Naomi Patadungan mengatakan, produk properti residensial masih cukup bertahan di tengah kondisi saat ini. Salah satu faktor pendukungnya adalah penggunaan komponen lokal yang cukup tinggi. 

Dengan demikian, strategi penggunaan komponen lokal dapat menahan lonjakan harga agar tetap dalam batas kemampuan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Vale Indonesia (INCO): Kerja Sama Nikel RI-Filipina Tak Berpengaruh ke Investasi HPAL

“Memang tidak bisa dipungkiri bahwa harga akan disesuaikan, kita juga tidak menutup diri bahwa harga akan naik. Cuma biasanya di dalam strategi itu akan ada solusi,” ungkap Naomi, ketika dijumpai wartawan di Kantor JLL Indonesia, Selasa (12/5/2026). 

Naomi menjelaskan, sebagian besar material pembangunan properti residensial, khususnya di segmen menengah, seperti semen dan bahan bangunan masih berasal dari dalam negeri. Sementara komponen impor seperti besi atau baja porsinya tidak dominan. 

Di sisi lain, pengembang juga mulai menyesuaikan strategi pengembangan proyek. Untuk kawasan pusat township atau central business district (CBD), pengembang cenderung membangun hunian vertikal untuk menekan biaya lahan dan memaksimalkan penggunaan ruang.

Sementara untuk menjaga keterjangkauan harga, pengembangan rumah tapak banyak diarahkan ke kawasan pinggiran yang ditopang konektivitas transportasi publik berbasis rel seperti MRT, LRT dan KRL.

Integrasi transportasi massal ini menjadi faktor penting untuk menopang daya beli masyarakat. Sehingga, penghematan biaya transportasi dapat dialihkan untuk pembayaran cicilan rumah.

Meski kondisi ekonomi menantang, Naomi menyebut permintaan rumah segmen menengah masih relatif terjaga. Saat ini, rumah dengan harga Rp 800 juta hingga Rp 1,5 miliar masih menjadi kisaran yang paling diminati pasar.

Naomi memaparkan, rumah di bawah Rp 2 miliar umumnya masih menjadi kebutuhan utama atau primary home sehingga permintaannya relatif stabil meskipun daya beli masyarakat melemah.

Baca Juga: Perlindungan Pekerja dan Mitra Subkontraktor Jadi Bagian Strategi Bisnis Daikin

Sebaliknya, segmen rumah di atas Rp 3 miliar mulai menghadapi tantangan karena konsumen memiliki lebih banyak pilihan dan cenderung bersikap wait and see.

“Kalau segmen Rp 3 miliar ini mereka banyak pilihan dan juga mereka biasa melakukan action ya wait and see dulu aja. Karena itu bukan menjadi basis ataupun kebutuhan utama bagi mereka,” paparnya. 

Sementara dari sisi pembiayaan, JLL Indonesia melihat tren penurunan bunga KPR juga dapat menjadi penopang pasar properti tahun ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×