kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.884.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Konflik Timur Tengah Berpotensi Makin Menekan Pasar Properti Tanah Air


Kamis, 05 Maret 2026 / 11:25 WIB
Konflik Timur Tengah Berpotensi Makin Menekan Pasar Properti Tanah Air
ILUSTRASI. Asuransi Properti: Deretan gedung-gedung pencakar langit (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai berpotensi menekan pasar properti Tanah Air yang memang tengah mengalami pelemahan.

CEO Indonesia Property Watch (IPW) sekaligus Pengamat Properti, Ali Tranghanda mencermati, di tengah konflik global, pergerakan harga properti akan stagnan bahkan relatif menurun.

"Para investor juga saat ini mulai melakukan exit di pasar sekunder dengan menjual sebagian aset investasi propertinya yang dapat mengakibatkan koreksi harga," jelas Ali kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).

Meskipun harga berada di titik rendah, Ali melihat minat investor saat ini juga menurun. Konflik pun akan secara tidak langsung akan makin menekan ekonomi dan daya beli masyarakat.

Berdasarkan segmennya, Ali mencermati segmen properti di bawah Rp 500 juta sangat rentan terdampak oleh ketidapkastian global. Sementara itu, properti segmen atas saat ini mengalami penurunan minat, meskipun daya beli pasar di golongan ini masih tetap ada.

"Harus disadari pasar properti saat ini memang dalam kondisi melemah dan berpotensi lebih tertekan pasca perang ini. Pemerintah harus dapat mempercepat pergerakan ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga," tandas Ali.

Baca Juga: Jaga Distribusi Energi Ramadan–Idul Fitri, Pertamina Patra Niaga Siagakan 345 Kapal

Sebelumnya, Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, ketidakpastian global yang kerap memicu aliran dana keluar (capital outflow) dapat mengakibatkan pelemahan mata uang rupiah.

Menurut Ferry, penurunan kurs dapat meningkatkan biaya material impor seperti elevator, façade system, HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning), serta komponen teknis gedung bertingkat lainnya yang sifatnya high-tech. Ini dapat berdampak ke proyek gedung bertingkat tinggi (high-rise).

"Proyek high-rise menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dibanding rumah tapak, karena proporsi material impornya relatif lebih besar. Hal ini berpotensi menekan margin pengembang atau mendorong penyesuaian harga jual," terang Ferry dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Baca Juga: Tinjau Supermarket di Makassar, Mendag Pastikan Stok Bapok Aman saat Ramadan-Lebaran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×