kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.909   -10,00   -0,06%
  • IDX 7.704   126,73   1,67%
  • KOMPAS100 1.076   17,41   1,65%
  • LQ45 784   12,04   1,56%
  • ISSI 272   4,61   1,72%
  • IDX30 417   7,26   1,77%
  • IDXHIDIV20 510   8,13   1,62%
  • IDX80 121   1,76   1,48%
  • IDXV30 138   1,94   1,42%
  • IDXQ30 134   2,17   1,64%

Konflik Timur Tengah Berpotensi Makin Menekan Pasar Properti Tanah Air


Kamis, 05 Maret 2026 / 11:25 WIB
Konflik Timur Tengah Berpotensi Makin Menekan Pasar Properti Tanah Air


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai berpotensi menekan pasar properti Tanah Air yang memang tengah mengalami pelemahan.

CEO Indonesia Property Watch (IPW) sekaligus Pengamat Properti, Ali Tranghanda mencermati, di tengah konflik global, pergerakan harga properti akan stagnan bahkan relatif menurun.

"Para investor juga saat ini mulai melakukan exit di pasar sekunder dengan menjual sebagian aset investasi propertinya yang dapat mengakibatkan koreksi harga," jelas Ali kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).

Meskipun harga berada di titik rendah, Ali melihat minat investor saat ini juga menurun. Konflik pun akan secara tidak langsung akan makin menekan ekonomi dan daya beli masyarakat.

Berdasarkan segmennya, Ali mencermati segmen properti di bawah Rp 500 juta sangat rentan terdampak oleh ketidapkastian global. Sementara itu, properti segmen atas saat ini mengalami penurunan minat, meskipun daya beli pasar di golongan ini masih tetap ada.

"Harus disadari pasar properti saat ini memang dalam kondisi melemah dan berpotensi lebih tertekan pasca perang ini. Pemerintah harus dapat mempercepat pergerakan ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga," tandas Ali.

Baca Juga: Jaga Distribusi Energi Ramadan–Idul Fitri, Pertamina Patra Niaga Siagakan 345 Kapal

Sebelumnya, Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, ketidakpastian global yang kerap memicu aliran dana keluar (capital outflow) dapat mengakibatkan pelemahan mata uang rupiah.

Menurut Ferry, penurunan kurs dapat meningkatkan biaya material impor seperti elevator, façade system, HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning), serta komponen teknis gedung bertingkat lainnya yang sifatnya high-tech. Ini dapat berdampak ke proyek gedung bertingkat tinggi (high-rise).

"Proyek high-rise menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dibanding rumah tapak, karena proporsi material impornya relatif lebih besar. Hal ini berpotensi menekan margin pengembang atau mendorong penyesuaian harga jual," terang Ferry dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Baca Juga: Tinjau Supermarket di Makassar, Mendag Pastikan Stok Bapok Aman saat Ramadan-Lebaran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×