kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sektor usaha perhotelan masih menjadi penopang bisnis IKAI


Kamis, 17 Oktober 2019 / 16:03 WIB

Sektor usaha perhotelan masih menjadi penopang bisnis IKAI
ILUSTRASI. PT Internusa Keramik Alamasri (INKA) melakukan peremajaan mesin untuk mengembalikan kapasitas produksinya pada Rabu (24/7).

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Langkah PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) untuk mengakuisisi mulai mengerek pendapatan bersih perseroan. Namun dari sisi bottomline masih belum terjadi perbaikan yang signifikan.

Lesunya industri keramik lokal dalam beberapa tahun belakangan ini, mengakibatkan anak usah IKAI, PT Internusa Keramik Alamasri (IKAI) belum menjalankan mesin produksi secara penuh. Sehingga berakibat merosotnya pendapatan yang berasal dari penjualan keramik.

Baca Juga: Pemilik warung bebek goreng Haji Slamet yang legendaris meninggal dunia

"Selama semester-I tahun ini hotel masih menjadi sektor andalan perusahaan. Namun kedepannya kami harapkan antara keramik dan hotel dapat seimbang," terang Teuku Johas Raffli, Direktur Utama IKAI saat paparan publik perseroan berlangsung, Kamis (17/10).

Berkaca pada laporan keuangan semester-I 2019 pendapatan bersih perseroan mencapai Rp 34,62 miliar, naik berkali-kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 2,07 miliar. Sebanyak 97% disumbangkan oleh sektor perhotelan atau senilai Rp 33,81 miliar, dimana sektor keramik hanya berkontribusi Rp 811 juta saja.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini setidaknya perseroan telah mengakuisisi enam hotel dan berencana menambah tiga-empat hotel baru lagi dengan nilai investasi Rp 500 miliar. Saat ini perseroan mengaku tengah mempelajari ekspansi perhotelan tersebut.

Baca Juga: Kasus money game skema piramida PT Amoeba, satu orang jadi DPO

Apakah usai mengakuisisi perhotelan ini perusahaan mulai dapat membukukan laba bersih? Johas bilang sampai akhir tahun ini bottomline masih sulit untuk dinaikkan menjadi positif lantaran beban bunga yang masih tinggi.

Sampai semester-I 2019 walau IKAI membukukan laba kotor senilai Rp 22,88 miliar, namun beban administrasi membengkak hingga Rp 29,38 miliar. Belum lagi ada beban keuangan Rp 15,55 miliar, sehingga rugi bersih yang diperoleh perusahaan mencapai Rp 34,56 miliar.

Perusahaan mengaku enggan mematok pertumbuhan yang muluk-muluk. "Yang kami harapkan dapat membukukan EBITDA yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya," terang Johas.

Adapun sampai kuartal-III 2019 perseroan masih enggan membeberkan kinerja terbarunya, namun dari sisi gross revenue Johas mengaku ada kenaikan di atas 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Gempa susulan yang menggoyang Maluku sudah mencapai 1.000 kali dalam sepekan

Perseroan masih optimistis di tahun depan bakal dapat membukukan pendapatan bersih yang lebih baik lagi dan meningkat dibandingkan tahun ini.
 


Reporter: Agung Hidayat
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan


Close [X]
×