Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa dari sektor ESDM sepanjang 2025 berhasil menyumbang pendapatan negara bukan pajak (PNBP) senilai Rp243,41 triliun, atau lebih rendah daripada target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja negara (APBN) 2025 sebesar Rp255,5 triliun.
Angka tersebut didapat dari sumbangan pada subsektor mineral dan batu bara (minerba), panas bumi, hingga minyak dan gas bumi (migas) yang dicatat Kementerian Keuangan.
Seperti berasal dari sumber daya alam (SDA) minerba sekitar 104,38%, panas bumi 103,4%, migas 83% dan lainnya 311,05%.
Baca Juga: Realisasi PNPB Sektor ESDM Rp 117 Triliun per Juni 2025, 46% dari Target APBN 2025
Untuk PNPB sektor lainnya mencakup: Badan Layanan Umum (BLU), iuran Badan Usaha Hilir Migas, Domestic Market Obligation (DM) migas, Kompensasi DMO Batu Bara, denda smelter, denda penertiban kawasan hutan (PKH), jasa layanan ketenagalistrikan, museum, pemanfaatan barang Milik Negara (BMN) dan jasa lainnya.
Kalau dilihat, secara angka, Minerba masih menjadi sumbangan terbesar bagi sektor ESDM. Minerba menyumbang sebesar Rp138,37 triliun meskipun kondisi pasar komoditas global sedang fluktuatif, termasuk batubara.
Khusus minerba, angka ini melampaui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN yang dipatok sebesar Rp127,44 triliun.
Baca Juga: Bahlil Lapor Prabowo: Lifting Minyak 2025 Tembus Target APBN
"Terkait PNBP, disaat harga komoditas lagi, batu bara harganya tidak terlalu, Tapi Alhamdulillah kerja dari ESDM pencapaian target dari PNBP di sektor minerba mencapai 108,56% melampaui target," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam Konfrensi Pers Kinerja Sektor ESDM, Kamis (8/1/2026).
"Di dalam DIPA Rp 127,44 triliun realisasi Rp 138,37 triliun, ini kerja tim dan butuh konsentrasi dan totalitas," tambah Bahlil
Sementara itu, untuk PNBP sektor migas terdapat koreksi. Bahlil menyebut, sebagai perbandingan dalam APBN asumsi harga ICP mencapai US$ 82 per barel. Namun, sejak Januari 2025 hingga Desember 2025 rata-rata harga minyak mengalami penurunan hingga US$ 68 per barel.
"Maka itu berdampak, ketika harga gak sampai US$ 80 berdampak pada pendapatan negara kita. Karena itu pendapatan kita di sektor migas mencapai Rp 105,04 triliun, jadi totalnya 83%. Alasannya asumsi di APBN ICP US$ 82 per barel," tambah Bahlil.
Adapun, jika dibandingkan, realisasi PNBP 2025 ini mengalami penurunan dari tahun 2024 yang mencapai Rp 269,6 triliun.
Baca Juga: Ini Strategi ESDM Genjot Lifting Minyak Tahun 2026
Selanjutnya: Ini Daftar Kota yang Paling Aman di Dunia Tahun 2025, Eropa Mendominasi
Menarik Dibaca: Promo Berhadiah Indomaret Periode 8-21 Januari 2026, Derma Angel Beli 1 Gratis 1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)