Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.140
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Setelah harga batubara, kini harga gas dipatok US$ 6 per mmbtu untuk pembangkit

Selasa, 20 November 2018 / 12:38 WIB

Setelah harga batubara, kini harga gas dipatok US$ 6 per mmbtu untuk pembangkit
ILUSTRASI. Dirut PLN Sofyan Basir Tanggapi Rumahnya Digeledah KPK

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera membahas harga gas bumi untuk sektor ketenagalistrikan. Pasalnya, PT Perusahaan Listrik Negara persero (PLN) telah menyampaikan surat penetapan harga gas khusus listrik kepada Menteri ESDM, Ignatius Jonan.

“Suratnya baru sampai ke Pak Menteri (ESDM), baru disposisi ke saya,” ungkap Direktur Jendral Ketenagalistrikan Andy N. Sommeng bertempat di Kantor Kementerian ESDM, Senin (19/11).


Baca Juga

Andy bilang, dalam surat itu, PLN meminta supaya pemerintah mematok harga gas sebesar US$ 6 per mmbtu sampai ke pembangkit listrik (plant gate). Usulan tersebut, lanjut Andy, sesuai dengan hasil rapat Panitia Kerja (Panja) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Untuk menindak lanjuti usulan tersebut, Andy menyebut bahwa pemerintah akan membahasnya dalam rapat penyusunan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2019-2028 yang akan digelar pada Kamis, pekan ini. “Mungkin dimasukkan (usulan) itu juga. Dibahas di (penyusunan) RUPTL, Kamis ini,” imbuhnya.

Menurut Andy, usulan pematokan harga gas untuk kelistrikan ini bukan semata-mata karena kondisi keuangan PLN yang sedang merugi. Tapi, lebih sebagai upaya dalam menjaga keberlanjutan, dengan menyeimbangkan biaya di hulu dengan tarif di hilir pada sektor kelistrikan ini.

Pemerintah, lanjut Andy, akan memikirkan cara supaya ada keseimbangan antara harga di hulu yang berfluktuasi, dengan harga di hilir yang cenderung tetap. Sehingga keterjangkauan (affordability) tarif akan tetap terjaga dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan daya kompetitif industri, tanpa mengorbankan PLN yang sebagai perusahaan membutuhkan keuntungan untuk inevestasi atau pengembangan operasi.

“Ya kita perlu pikirkan dong supaya jangan sampai proses produksi di sini terganggu, dan juga memikirkan keberlangsungan. Karena dari sisi masyarakat ingin listrik tersedia, harga terjangkau. Tapi BUMN (PLN) juga butuh dalam rangka pengebangan investasi, operasi, dan sebagainya,” jelasnya.

Adapun, menurut Andy, PLN selama ini membeli gas dari industri hulu migas dengan harga yang bervariasi. Mulai dari US$ 7 per mmbtu hingga US$ 11 per mmbtu, yang disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti fluktuasi harga, jenis dan tempat.
“Ada mulai US$ 7 , US$ 11 (per mmbtu), macam-macam. Tergantung tempat, tergantung dari LNG, yang melalui pipa,” imbuhnya.

Sedangkan pada kuartal III-2018 ini, asal tahu saja, PLN telag menanggung rugi bersih sebesar Rp 18,50 triliun. Padahal, jika dibandingkan secara yar on year (yoy) atau periode yang sama tahun lalu, PLN masih memiliki laba senilai Rp 3,04 triliun. Kerugian bersih yang diderita oleh PLN itu disebabkan karena beban usaha yang melonjak hingga 11,82% menjadi Rp 224 triliun dari yang sebelumnya Rp 200,31 triliun.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Editor: Azis Husaini
Video Pilihan

Tag
TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0515 || diagnostic_web = 0.3053

Close [X]
×