kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Solar subsidi makin ketat, Isuzu tetap optimistis


Senin, 04 Agustus 2014 / 09:53 WIB
ILUSTRASI. Petugas keamanan berjalan di dekat slogan bertuliskan 'Pajak Kuat Indonesia Maju' di sebuah Kantor Pelayanan Pajak, Jakarta, Rabu (14/7/2021). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.


Reporter: Francisca Bertha Vistika | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Mulai 4 Agustus 2014, penjualan solar bersubsidi di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Bali akan dibatasi. Namun, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) optimistis penjualan mobil diesel merek Isuzu tidak akan terganggu dengan kebijakan ini.

Supranoto, Light Commercial Vehicle Marketing Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia menuturkan, meski ada pembatasan solar subsidi, pihaknya optimistis penjualan mobil Isuzu yang seluruhnya bermesin diesel tidak akan terganggu. "Pada Juli ini, penjualan kami sekitar 2.500 unit. Di Agustus ini perkiraan kami masih ada di angka tersebut," jelas Supranoto pada KONTAN, Minggu (3/8).

Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan kendaraan bermotor merek Isuzu pada Juni 2014 tercatat 2.448 unit. Sepanjang semester I-2014 ini penjualannya tercatat mencapai sekitar 7.920 unit.

Menurut Supranoto, yang membuat Isuzu tetap yakin adalah lantaran mobil berbahan bakar solar masih dilirik konsumen. Konsumen pun masih membutuhkan kendaraan jenis ini. "Mobil bahan bakar solar lebih irit dan ramah lingkungan. Orang masih membutuhkan. Jadi penjualannya tidak akan terganggu," tandas dia.

Sebelumnya, ia pernah menyampaikan meski harga solar subsidi kerap naik, pihaknya tidak kuatir mobil jenis ini ditinggalkan konsumen. Ketika harga solar naik, kekagetan konsumen hanya sebentar. Setelah itu, konsumen kembali melirik mobil jenis ini karena tuntutan kebutuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×