kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Soroti PHK Tokopedia, Kadin: Tekanan Profitabilitas Jadi Tantangan Industri Digital


Minggu, 05 Juli 2026 / 13:20 WIB
Soroti PHK Tokopedia, Kadin: Tekanan Profitabilitas Jadi Tantangan Industri Digital
ILUSTRASI. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa (WARTAKOTA/Angga Bhagya Nugraha)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) di Tokopedia lebih mencerminkan proses konsolidasi yang tengah berlangsung di industri teknologi ketimbang menjadi sinyal pelemahan ekonomi digital nasional.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, apabila PHK tersebut benar terjadi, langkah itu merupakan bagian dari penyesuaian model bisnis yang kini banyak dilakukan perusahaan teknologi di tengah perubahan lanskap industri.

"Perusahaan teknologi saat ini dituntut untuk lebih mengutamakan profitabilitas, efisiensi operasional, dan produktivitas dibandingkan strategi ekspansi agresif yang sebelumnya banyak didorong oleh pendanaan murah," ujar Erwin dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).

Baca Juga: Pertamina Tata 31 Entitas Usaha Melalui Merger, Divestasi Non-Bisnis Inti & Likuidasi

Menurutnya, sejumlah faktor turut mendorong perusahaan melakukan restrukturisasi organisasi, mulai dari perlambatan konsumsi masyarakat, persaingan bisnis yang semakin ketat, tingginya biaya akuisisi pelanggan, hingga perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Meski demikian, Erwin menilai fundamental ekonomi digital Indonesia masih cukup kuat. Hal itu tercermin dari nilai transaksi digital yang terus tumbuh dan tingkat adopsi teknologi yang semakin meningkat.

"Tantangannya adalah bagaimana perusahaan mampu membangun model bisnis yang sehat dan berkelanjutan," katanya.

Terkait potensi gelombang PHK di perusahaan digital lainnya, Erwin berharap kondisi tersebut tidak meluas. Namun, ia mengakui penyesuaian jumlah tenaga kerja masih mungkin terjadi apabila tekanan terhadap profitabilitas terus berlanjut.

Kendati demikian, ia menekankan kondisi masing-masing perusahaan berbeda sehingga tidak tepat menjadikan satu kasus sebagai cerminan keseluruhan industri digital.

Menurut Erwin, masih banyak perusahaan yang melakukan ekspansi dan membuka lowongan kerja, khususnya pada bidang AI, komputasi awan (cloud computing), keamanan siber, analitik data, serta layanan digital berbasis enterprise.

Ia menambahkan, hingga akhir tahun sejumlah sektor diperkirakan masih menghadapi tekanan, antara lain e-commerce yang bergantung pada strategi subsidi dan promosi, startup yang belum mencapai profitabilitas, industri padat karya berorientasi ekspor, serta sektor ritel modern dan logistik yang sangat bergantung pada daya beli masyarakat.

Baca Juga: Prospek Industri Baja Membaik di Semester II, Tapi Permintaan Masih Pulih Bertahap

Sebaliknya, sektor yang berkaitan dengan digitalisasi industri, AI, pusat data, layanan business-to-business (B2B), kesehatan, dan pendidikan digital dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif.

Untuk menjaga daya saing industri digital, Kadin mendorong pemerintah dan pelaku usaha memperkuat kolaborasi melalui kepastian regulasi, peningkatan investasi di sektor AI, pusat data, semikonduktor, serta ekonomi digital bernilai tambah.

Selain itu, Kadin juga menilai program reskilling dan upskilling bagi pekerja terdampak perlu diperluas agar mereka dapat segera terserap di subsektor digital yang masih berkembang. Insentif bagi riset dan inovasi teknologi serta kolaborasi antara startup, korporasi, perguruan tinggi, dan pemerintah juga dinilai penting untuk menciptakan lapangan kerja baru.

"Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sektor digital bukan hanya jumlah startup yang tumbuh, tetapi juga kemampuannya menciptakan bisnis yang sehat, berdaya saing global, berkelanjutan, serta terus membuka lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat Indonesia," tutup Erwin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×