Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) bersiap menggenjot kapasitas produksi mulai tahun depan. Perusahaan yang kerap disebut Spindo ini menargetkan pengembangan Plant 7 dapat menambah output sekitar 50.000 ton hingga 70.000 ton pada 2027, seiring rampungnya penambahan mesin pipa berukuran 8 inch dan 20 inch.
Johanes Wahyudi Edward Corporate Secretary & Investor Relation Spindo menjelaskan, pengembangan Plant 7 dilakukan secara bertahap. Tahap pertama berupa pembangunan North Distribution Centre atau gudang seluas 1 hektare telah selesai pada 2024 dan difungsikan sebagai pusat distribusi.
Adapun tahap kedua mencakup penambahan mesin 8 inch dan 20 inch. Mesin 8 inch telah beroperasi sejak kuartal II 2026, sedangkan proses final commissioning mesin 20 inch ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026.
Baca Juga: Elnusa (ELSA) Realisasikan 35% Capex di Semester I-2026, Simak Rincian Penggunaannya
Penambahan kapasitas ini menjadi bagian dari strategi Spindo untuk menangkap pertumbuhan permintaan pada sejumlah sektor, khususnya minyak dan gas, energi, serta infrastruktur. Perusahaan ini juga melihat peluang dari meningkatnya kebutuhan pipa dengan spesifikasi dan nilai tambah yang lebih tinggi.
Untuk mendukung peningkatan kapasitas tersebut, Plant 7 dilengkapi teknologi advanced Electric Resistance Welding (ERW) mills, robotic automation, dan sistem pemantauan Industry 4.0. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga kualitas produk.
Dari sisi keberlanjutan, pengembangan Plant 7 juga mempertimbangkan penggunaan peralatan yang lebih hemat energi, waste heat recovery, serta pemenuhan ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Ekspansi kapasitas dilakukan di tengah kinerja Spindo yang masih tumbuh pada semester I 2026. Spindo membukukan pendapatan sebesar Rp 2,8 triliun, meningkat 8,5% secara tahunan.
Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan laba kotor sebesar 14,7% menjadi Rp 597,6 miliar. Margin laba kotor juga meningkat menjadi 21,1% dari 19,9% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Manajemen menyebut capaian tersebut merupakan margin laba kotor tertinggi dalam sejarah perseroan.
Sementara itu, laba bersih SPINDO mencapai Rp240,5 miliar pada semester I 2026, tumbuh 12,7% secara tahunan. Margin laba bersih tercatat sebesar 8,5%, meningkat dari 8,2% pada semester I 2025.
Selain meningkatkan kapasitas, perseroan mengatakan strategi pengembangan Plant 7 diarahkan untuk memperkuat diversifikasi produk dan meningkatkan kontribusi produk bernilai tambah. Hal ini sejalan dengan strategi SPINDO untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi juga mengoptimalkan bauran produk guna menjaga profitabilitas.
Baca Juga: Apindo-Kadin Minta EPR Tak Jadi Beban Baru Industri
Dengan penyelesaian commissioning mesin 20 inch pada kuartal IV 2026, pengembangan Plant 7 diharapkan dapat memberikan tambahan kapasitas dan output baru bagi Spindo pada 2027.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














