Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) membukukan kinerja positif pada semester I-2026. Emiten produsen pipa baja ini mencatat laba bersih sebesar Rp 240,5 miliar atau naik 12,7% secara tahunan (year on year/YoY), ditopang pertumbuhan pendapatan dan penguatan margin laba.
Berdasarkan rilis resmi perusahaan yang diterima Kontan pada Selasa (28/7/2026), pendapatan ISSP mencapai Rp 2,84 triliun pada enam bulan pertama 2026, meningkat 8,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Seiring itu, laba kotor naik 14,7% menjadi Rp 597,6 miliar, sehingga margin laba kotor meningkat dari 19,9% menjadi 21,1%.
Baca Juga: Cuaca Panas Buka Peluang Penjualan AC dan Air Purifier, Tapi Ada Tantangan Mengadang
Di sisi lain, beban umum dan administrasi meningkat 43,7% YoY akibat perubahan metode akrual tunjangan hari raya (THR) dan bonus yang kini dibebankan secara merata setiap kuartal. Selain itu, pelemahan nilai tukar turut mendorong kenaikan beban lain-lain sebesar 186% YoY.
Namun, penurunan beban bunga atas obligasi dan sukuk sebesar 15% YoY membantu menekan beban keuangan. Secara keseluruhan, total beban operasional dan beban lainnya tercatat Rp 294 miliar.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan mencapai Rp 10,45 triliun dengan liabilitas sebesar Rp 4,68 triliun. Kenaikan aset terutama dipicu peningkatan nilai persediaan akibat tingginya permintaan proyek pada kuartal II-2026, termasuk barang dalam perjalanan (goods in transit), bahan baku, dan barang jadi.
Meningkatnya kebutuhan modal kerja juga tercermin dari kenaikan persediaan, piutang usaha, dan utang usaha. Kondisi tersebut menyebabkan utang bank jangka pendek meningkat sehingga rasio debt to equity ratio (DER) naik menjadi 0,81 kali. Meski demikian, likuiditas perusahaan tetap terjaga dengan current ratio sebesar 205%.
Pada sisi arus kas, aktivitas operasional mencatat arus kas bersih negatif sebesar Rp 1,10 triliun, terutama akibat meningkatnya pembayaran kepada pemasok dan penambahan persediaan untuk mendukung produksi serta proyek. Perusahaan juga membayar obligasi dan sukuk senilai Rp 500,55 miliar sebagai bagian dari pengelolaan struktur pendanaan. Saldo kas akhir tercatat sebesar Rp 680 miliar pada akhir semester I-2026.
Di sisi ekspansi, pembangunan Unit 7 di Gresik terus berjalan. Gudang dan lini produksi pipa berdiameter hingga 8 inci telah beroperasi, sedangkan mesin untuk lini produksi pipa hingga 20 inci masih dalam proses pengiriman.
Manajemen berharap fasilitas baru tersebut dapat memperluas portofolio produk, terutama untuk segmen pipa bernilai tambah dan bermargin lebih tinggi yang sebelumnya belum dapat diproduksi perusahaan.
Baca Juga: Insentif B50/B40Capai Rp 17 Triliun, Ekonom Ingatkan Risiko Opportunity Cost CPO
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














