kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45672,14   1,07   0.16%
  • EMAS916.000 -1,08%
  • RD.SAHAM 0.54%
  • RD.CAMPURAN 0.26%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Sriwijaya Air singkirkan orang-orang Garuda dari jajaran direksi?


Rabu, 11 September 2019 / 09:22 WIB
Sriwijaya Air singkirkan orang-orang Garuda dari jajaran direksi?
ILUSTRASI. Logo Garuda Indonesia di badan pesawat Sriwijaya Air

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ini kabar teranyar dari PT Sriwijaya Air. Maskapai penerbanagan ini dikabarkan akan merombak susunan direksinya. Tak tanggung-tanggung, direktur utamanya, yakni Joseph Adrian Saul dicopot dari jabatannya.

Tak hanya Joseph Adrian. Harkandri M Dahler selaku Direktur Human Capital and Service Sriwijaya Air, dan Joseph K Tendean selaku Direktur Komersial Sriwijaya Air juga ikut dicopot. Hal tersebut diketahui Kompas.com dari surat pemberitahuan nomor 001/Plt.DZ/EXT/SJ/IX/2019 yang beredar. Surat tersebut dikeluarkan pada Senin (9/9) kemarin.

Untuk menempati posisi ketiga orang tersebut, Dewan Komisaris menunjuk Anthony Raimond Tampubolon selaku Plt Direktur Utama, Plt Direktur Human Capital & Layanan, dan Plt Direktur Komersial. Selanjutnya, Anthony Raimond kemudian memberikan kuasa kepada Robert D Waloni selaku Pelaksana Tugas Harian Direktur Utama dan Rifai selaku Pelaksana Tugas Harian Direktur Komersial Sriwijaya Air.

Baca Juga: Sriwijaya Air: Pariwisata dan business trip di semester II-2019 akan lebih baik

Rupanya, ketiga orang yang dicopot itu merupakan pejabat di Maskapai Garuda Indonesia yang ditugaskan untuk mengelola Sriwijaya Air. Josep Adrian merupakan mantan General Manager Garuda Indonesia Denpasar, lalu Harkandri M. Dahler sebelumnya menjabat Direktur Personalia Garuda Maintenance Facility. Sedangkan, Joseph K Tendean pernah menjabat sebagai Senior Manager Ancillary Garuda Indonesia.

Hal tersebut pun dibenarkan oleh Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Group, Ikhsan Rosan. “Betul (ketiganya merupakan orang Garuda Indonesia),” ujar Ikhsan kepada Kompas.com, Selasa (10/9).

Baca Juga: Sriwijaya Air tidak tambah rute sampai akhir tahun

Padahal, Garuda Indonesia, melalui anak perusahaannya PT Citilink Indonesia, sebelumnya telah mengambil alih pengelolaan operasional Sriwijaya Air dan NAM Air. Hal tersebut direalisasikan dalam bentuk Kerjasama Operasi (KSO) antara Citilink dengan PT Sriwijaya Air dan PT NAM Air. KSO tersebut dilakukan sejak 9 November 2018.

Terbelit Utang di 3 BUMN

Langkah itu diambil setelah maskapai swasta yang dimiliki oleh keluarga Chandra Lie itu terbelit hutang dengan tiga perusahaan BUMN, yakni BNI, Pertamina dan Garuda Maintenance Facility (GMF). Garuda pun menempatkan orang-orangnya di Sriwijaya Air untuk membantu mengelola maskapai ini.

Bahkan, Garuda Indonesia Group juga berencana untuk menaikkan status dari KSO menjadi kepemilikan mayoritas di maskapai ini. Namun pada belakangan ini, orang-orang dari Garuda ini diberhentikan.

Baca Juga: Rute penerbangan ke Manokwari dihentikan, gubernur Papua Barat surati Sriwijaya Air

Aksi “bersih-bersih” orang-orang Garuda Indonesia di Sriwijaya Air dilakukan tanpa persetujuan para petinggi maskapai pelat merah tersebut. Imbasnya, para petinggi Garuda Indonesia meradang. Untuk mengetahui kebenaran hal itu, para petinggi manajemen Garuda Indonesia Group akan memanggil dewan komisaris Sriwijaya.

“Manajemen Garuda Indonesia Group meminta untuk bertemu besok Rabu (11/9/2019) untuk meminta penjelasan dan klarifikasi dari Sriwijaya,” kata Ikhsan.

Target Untung

Rp 300 Miliar Tahun lalu, Sriwijaya Air mencatatkan kerugian hingga Rp 1,2 triliun. Namun setelah berada di bawah pengelolaan Garuda Indonesia, maskapai tersebut kinerjanya membaik. Bahkan, Joseph Tendean yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Utama Sriwijaya Air menargetkan pada tahun ini maskapai ini mencatatkan keuntungan.

“Saya ngomong (target) di RKAP kita Rp 300 miliar. Kelihatannya sih (bisa) lebih,” ujar Direktur Niaga Sriwijaya Air Joseph Tendean di Jakarta, Senin (15/7).

Baca Juga: Gara-gara tiket pesawat mahal, okupansi hotel di musim liburan sekolah anjlok

Salah satu cara yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan itu melalui efisiensi, yakni menutup rute-rute yang sepi penumpang. “Kita lakukan efisiensi, kami tutup kebocoran-kebocoran, deal-deal yang 'enggak bener' kita beresin. Itu kan bikin rugi perusahaan. Kalau dihilangkan kan bisa meningkatkan revenue,” kata Joseph.

Selain melakukan efisiensi, untuk meningkatkan pendapatan Sriwijaya Air memberikan sentuhan fitur baru pada Mobile Apps-nya. Fitur baru ini tampil lebih segar dan sangat easy to use, khususnya bagi kalangan generasi muda yang terus mobile dalam kesehariannya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Orang-orang Garuda Indonesia Disingkirkan dari Sriwijaya Air?"
Penulis : Akhdi Martin Pratama
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×