kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

PLN Kantongi 84 Juta Ton Batubara, Cukup hingga Agustus 2026


Selasa, 03 Maret 2026 / 23:10 WIB
PLN Kantongi 84 Juta Ton Batubara, Cukup hingga Agustus 2026


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan pasokan batubara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam kondisi aman.

Perseroan telah mengamankan suplai dari delapan perusahaan tambang besar, dengan total pasokan mencapai 84 juta metrik ton.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo mengatakan, volume tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir Agustus 2026.

“Ketersediaan batubara kita sangat memadai. Kami baru saja mendapatkan kepastian penugasan dari delapan pemasok utama batubara untuk PLN dan IPP,” ujar Rizal di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026) malam.

Baca Juga: Pertamina Proyeksi Konsumsi Bensin Naik 12% Saat Mudik Lebaran 2026

Delapan perusahaan pemasok tersebut antara lain:

  • PT Adaro Andalan Indonesia
  • PT Arutmin Indonesia
  • PT Berau Coal
  • PT Kaltim Prima Coal
  • PT Kideco Jaya Agung
  • PT Multi Harapan Utama
  • PT Indominco Mandiri
  • PT Bukit Asam Tbk

Baca Juga: Trafik Data saat Lebaran 2026 Diproyeksi Naik 20%, Tower Daerah Harus Diperkuat

Rizal menjelaskan, tambahan pasokan ini diharapkan segera memperbaiki Hari Operasi Pembangkit (HOP) di sejumlah PLTU. PLN menargetkan sebelum Lebaran, distribusi batubara sudah sampai ke seluruh pembangkit yang membutuhkan sehingga potensi defisit dapat ditekan.

Secara keseluruhan, kebutuhan batubara PLN sepanjang 2026 mencapai 124 juta metrik ton.

Dari jumlah tersebut, 84 juta metrik ton berasal dari perusahaan pemegang PKP2B generasi pertama dan IUP BUMN yang tidak mengalami pemangkasan RKAB.

Sisanya, sekitar 40 juta metrik ton, masih akan diproses lebih lanjut dari perusahaan non-PKP2B dan non-BUMN yang terdampak penyesuaian RKAB.

“Yang bisa kontrak ini dulu. Setelah itu baru kita proses lagi yang 40 juta metrik ton,” jelasnya.

Baca Juga: Pemerintah Negosiasi Keluarkan Dua Kapal Pertamina dari Zona Konflik Timur Tengah


Tag


TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×