Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) membidik pendapatan sebesar Rp 1,15 triliun sepanjang 2026. Dari perolehan tersebut, SUNI memasang target laba tahun berjalan Rp 207,35 miliar.
Meski demikian, harus diakui langkah SUNI cukup berat mengawali tahun ini.
Penjualan SUNI menyusut 50,59% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 313,52 miliar menjadi Rp 154,91 miliar pada kuartal I-2026.
Sejalan dengan itu, laba bersih SUNI merosot 72,39% (yoy) dari Rp 66,40 miliar menjadi Rp 18,33 miliar.
Baca Juga: Bangun Destinasi Golf dan Leisure, GOLF Perluas Pengembangan di Belitung
Direktur Sunindo Pratama, Freddy Soejandy menjelaskan bahwa pelemahan kinerja SUNI pada awal tahun ini terutama disebabkan oleh penurunan kontribusi dari penjualan produk Oil Country Tubular Goods (OCTG) Casing.
Berbeda dengan kontribusi pendapatan dari OCTG Tubing yang lebih stabil, siklus penjualan OCTG Casing mengikuti tender yang dimenangkan oleh perusahaan.
"Memang pada kuartal pertama terjadi penurunan yang cukup signifikan. Dari revenue, terutama dari produk OCTG Casing. Produk OCTG Casing sudah dikirimkan tahun kemarin, jadi tahun ini kami berusaha untuk mengikuti tender-tender baru," ungkap Freddy dalam paparan publik yang berlangsung pada Senin (22/6/2026).
OCTG merupakan jenis pipa seamless yang digunakan di sumur minyak, gas alam, dan panas bumi sesuai standar American Petroleum Institute (API).
Volume penjualan OCTG Sunindo mengalami penurunan sekitar 55% (yoy) dari 9.379 ton menjadi 4.230 ton pada kuartal I-2026.
Baca Juga: Perusahaan Otomotif Relokasi ke Vietnam, Begini Kata Pengamat
SUNI menargetkan bisa menjual sebanyak 21.851 ton OCTG sepanjang tahun ini. Artinya, realisasi penjualan OCTG pada kuartal I-2026 baru mencapai 19,35% dari target.
Sedangkan penjualan produk wellhead & x'mas tree justru melonjak pada awal tahun ini. SUNI menjual sebanyak 70 unit pada kuartal I-2026, berbanding penjualan 12 unit pada periode yang sama tahun lalu.
Freddy optimistis penjualan wellhead & x'mas tree bisa mencapai 142 unit sampai akhir tahun 2026.
Freddy meyakini SUNI bisa memperbaiki kinerja pada sisa tahun ini. Prospek bisnis SUNI akan terdorong oleh industri minyak dan gas (migas) nasional yang terus bergerak, terutama untuk mendukung target pemerintah mencapai produksi (lifting) minyak 1 juta barel pada tahun 2030.
Target tersebut akan mendorong permintaan untuk produk penunjang aktivitas migas yang memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Semakin pemerintah mengusahakan kenaikan (lifting), tentunya akan menimbulkan peningkatan permintaan, ini sangat positif bagi industri kami," ujar Freddy.
Guna menangkap peluang tersebut, SUNI pun segera mengoperasikan proyek ekspansi di anak usahanya, PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM). SUNI menargetkan Fasilitas pabrik ke-2 RTM bisa beroperasi pada kuartal IV-2026.
Freddy mengungkapkan bahwa secara fisik, konstruksi pabrik RTM-2 sudah rampung dan memulai proses commissioning untuk uji coba mesin. Namun, SUNI masih menunggu sertifikasi IPA terlebih dulu sebelum berproduksi secara komersial.
Baca Juga: Digital Realty Bersama Beberkan Ekspansi Bisnis Data Center di Kuartal I-2026
"Jadwal yang kami terima di bulan Juli akan ada audit API. Semoga setelah proses audit selesai, kami bisa segera mendapatkan sertifikasi API. Secara fisik, pabrik sudah siap. Kami harapkan kuartal keempat sudah bisa beroperasi," ungkap Freddy.
Freddy mengatakan bahwa kontribusi dari pengoperasian pabrik TRM-2 baru akan terasa signifikan pada tahun depan.
Freddy belum membeberkan secara rinci dampak pengoperasian TRM-2 terhadap kinerja SUNI. Harapan Freddy, ekspansi ini bisa mendongkrak pendapatan sekitar 20% - 25%.
"Tapi itu juga tergantung perkembangan pasar, karena kami juga sedang mengembangkan produk-produk baru, pasar baru akan kami masukkan. Jadi kami belum bisa memastikan secara pasti berapa, karena saat ini kami sedang mempelajari pasarnya seperti apa untuk produk-produk itu, termasuk untuk ekspor," terang Freddy.
Adapun, pada tahun ini SUNI menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 50 miliar yang akan digunakan untuk tahap akhir penyelesaian proyek RTM-2.
Baca Juga: Penjualan DSFI Naik 16% pada Kuartal I, Ini Faktor Pendorongnya
"Intenal kas kami sudah cukup, karena sebenarnya proyek sudah selesai, tinggal bayar retensi dan pembayaran-pembayaran akhir saja," imbuh Freddy.
Freddy menambahkan, saat ini SUNI memiliki arus kas yang cukup kuat berkat pembayaran yang telah diterima pada tahun lalu. Oleh sebab itu, SUNI pun percaya diri untuk menebar dividen kepada para pemegang sahamnya.
SUNI mengalokasikan sebesar Rp 25 miliar atau 13,01% dari laba bersih tahun buku 2025 sebagai dividen tunai.
Pembagian dividen ini sudah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang diselenggarakan pada Senin (22/6/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














