kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Survei Koaksi: Milenial rela bayar listrik EBT lebih mahal


Selasa, 26 November 2019 / 16:28 WIB
Survei Koaksi: Milenial rela bayar listrik EBT lebih mahal
ILUSTRASI. Petugas memeriksa panel surya (Solar Cell) di gedung ESDM, Jakarta, Rabu (2/3). Manfaat pengunaan panel surya untuk industri dapat menghemat energi serta biaya ketika puncak beban listrik tinggi di siang hari dan juga menurunkan emisi dari yang sebelumnya

Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keinginan masyarakat untuk beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT) sangat besar. Mereka bahkan rela membayar listrik lebih mahal bila bersumber dari energi yang bersih. Secara spesifik, matahari dan bioenergi  menjadi sumber EBT yang paling banyak dipilih dibandingkan energi terbarukan lainnya. 

Kesimpulan itu didapatkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Koaksi Indonesia. Sementara survei yang dilakukan IESR di rumah tangga di Jabodetabek dan Surabaya juga memberikan hasil,  masyarakat menerima serta bersedia untuk melakukan pembelian listrik EBT, terutama solar cell, jika memang tersedia dan mudah didapatkan. 

Survei yang dilakukan Koaksi terhadap 96.651 warganet beberapa waktu lalu mendapatkan data,  sebanyak 23,8% responden memilih matahari sebagai sumber energi terbarukan dan 22,4% memilih bioenergi. 

Baca Juga: Sampai Oktober 2019, Wijaya Karya Beton (WTON) kantongi kontrak Rp 5,2 triliun

Survei  dilakukan melalui platform Change.org selama 40 hari selama Mei-Juli lalu dan disebarkan lewat surat elektronik, media sosial, dan platform percakapan. Survei itu menjangkau pengguna internet di 34 provinsi di Indonesia. Menurut Nuly Nazlia, Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia, banyaknya partisipasi warganet menunjukkan tingkat kepedulian yang cukup tinggi pada isu energi terbarukan. 

“Dan keinginan mereka untuk beralih ke energi terbarukan juga sangat besar. Bahkan 36,5% responden rela membayar listrik lebih mahal bila bersumber dari energi yang bersih,” jelas Nuly dalam keterangannya, Selasa (26/11). 

Senada dengan itu, survei terbaru mengenai rooftop solar yang dilakukan Institute for Essential Services Reform (IESR) di Surabaya tahun ini serta di Jabodetabek tahun lalu,  juga mendapatkan data  bahwa mayoritas rumah tangga yang disurvei mengarah kepada ketertarikan terhadap penggunaan EBT terutama energi matahari.  

Baca Juga: Kemenhub gulirkan wacana swasta jual avtur, AKR Corporindo: Kami siap

“Dari hasil survei  IESR terbaru, kami mendapatkan insight bahwa mereka memang mau dan ada keinginan serta menerima penggunaan EBT terutama solar cell. Dan mereka juga menyatakan mau membeli/membayar kalau disediakan,” tutur Gandahaskara Saputra, Koordinator Komunikasi, IESR.

Sebanyak 44% responden Koaksi menyadari bahwa sektor energi terbarukan di Indonesia belum berkembang optimal. 19,7% berpendapat hambatan itu disebabkan oleh rendahnya pemahaman publik tentang energi terbarukan dan terkait ini,  23,5% responden mengaku mendapatkan informasi terkait EBT paling banyak dari media online. Hambatan lain yang disebut adalah ketergantungan terhadap energi fosil yang masih tinggi (13,9 persen), sementara 13% lainnya menyoroti persoalan riset yang belum menjadi prioritas pemerintah kita saat ini. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×