kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Tahun depan, harga baja naik 15%-20%


Kamis, 09 Desember 2010 / 10:23 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi persoalan defisit BPJS Kesehatan


Reporter: Herlina KD | Editor: Rizki Caturini


Kenaikan harga komoditas dunia tampaknya bakal berlanjut. Tahun 2011 nanti, harga baja dunia diperkirakan akan naik sekitar 15%-20% ketimbang harganya tahun ini.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Tbk Irvan Kamal Hakim mengatakan, meningkatnya harga baja tahun depan akan dipicu membengkaknya ongkos produksi akibat naiknya harga bahan baku bijih besi dan biaya energi.

Kondisi perekonomian di Eropa dan Amerika juga belum stabil, sehingga produksi baja sebagian besar industri baja di kawasan tersebut akan turun. Jadi, "Suplai berkurang, padahal permintaan bertambah," kata Irvan (8/12).

Pengurangan suplai baja dunia setidaknya akan berlangsung hingga akhir semester I-2011. Pada kurun waktu tersebut, ekonomi di Eropa dan Amerika diperkirakan belum pulih. Alhasil, menurt perkiraan Irvan, di kuartal I-2011, harga baja dunia akan naik US$ 20-US$ 30 per ton dari harga tahun ini. Saat ini harga baja jenis baja canai panas (hot rolled coil) sekitar US$ 700 per ton.

Irvan memperkirakan produksi baja dunia tahun depan tidak jauh berbeda dengan produksi tahun ini, yakni 1,2 miliar ton. Sedangkan konsumsi baja dunia sekitar 950 juta ton-1 miliar ton.

Adapun konsumsi baja nasional tahun ini mendekati sekitar 8,4 juta ton-8,7 juta ton. Jumlah ini meliputi seluruh jenis baja, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun impor.
Tahun depan, Irvan memperkirakan penjualan Krakatau Steel bisa mencapai 2,1 juta-2,2 juta ton baja. "Tahun depan ekspektasinya lebih besar terutama dari sektor otomotif, alat berat dan proyek pemerintah," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×