kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 -1,49%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tahun Ini, Phapros (PEHA) Optimistis Kinerja Bisnis Tumbuh Positif


Sabtu, 20 Januari 2024 / 08:15 WIB
Tahun Ini, Phapros (PEHA) Optimistis Kinerja Bisnis Tumbuh Positif
ILUSTRASI. PT Phapros Tbk (PEHA) mengatakan tahun 2024 ini perusahaan akan terus melakukan kemitraan dengan berbagai lembaga


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Phapros Tbk (PEHA) mengatakan tahun 2024 ini perusahaan akan terus melakukan kemitraan dengan berbagai lembaga untuk berinovasi menciptakan alkes dan obat-obatan terbaru.

Direktur Utama PEHA David Sijabat menuturkan pihaknya sudah menggandeng beberapa universitas dan lembaga penelitian untuk mengembangkan produk yang inovatif.  

"Kami juga mengembangkan innovative dosage form secara internal, sehingga nantinya jenis sediaan produk Phapros akan semakin beragam. Selain itu, rencana ekspor tahun 2024 juga masih sesuai jadwal. Kami optimis tahun ini, pertumbuhan Phapros tetap positif,” ungkapnya, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (19/1).

Baca Juga: Kinerja Industri Farmasi Lesu, Phapors (PEHA) Siapkan Strategi Ini

Ia melanjutkan, PEHA merupakan bagian dari Holding BUMN farmasi juga telah dikenal luas dengan produk Antimonya. Sebagai bagian dari emiten Syariah, kinerja keuangan Phapros serta pergerakan harga sahamnya dalam jangka panjang cukup menarik bagi para investor.

“Di kuartal pertama ini pun kami akan terus memberikan kinerja terbaik yang nantinya juga bisa dinikmati oleh para investor,” kata David.

Di sisi lain, pengamat pasar modal Haryajid Ramelan menuturkan, sektor farmasi dinilai masih menarik di tahun 2024, termasuk saham-saham emiten di sektor tersebut. Meski tantangannya banyak, peluang yang ditawarkan juga tidak sedikit. 

Banyaknya perusahaan farmasi di Indonesia yang terus bertumbuh, baik dari sisi produksi obat-obatan maupun alat kesehatan serta jamu merupakan faktor yang membuat pasar farmasi masih cerah tahun ini.

Haryajid mengatakan, faktor populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta orang maupun populasi penduduk dunia yang mencapai 8 miliar orang merupakan pasar yang sangat potensial baik saat ini maupun akan datang. Dalam pandangannya, pemenuhan kebutuhan obat di dalam negeri saja sudah besar, apalagi negara lain seperti Afrika dan Timur Tengah.

“Perlu terobosan-terobosan untuk melakukan ekspansi ke negara-negara yang memiliki populasi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Bukan hanya negara berkembang saja. Sektor ini masih sangat tinggi dan stabil pertumbuhannya, dan kondisi permintaannya juga cukup bagus terutama orang-orang yang memiliki pendapatan yang sudah stabil,” tuturnya.

 

Direktur Utama Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal (LSPPM) tersebut mengatakan bahwa inovasi merupakan hal yang paling penting untuk dilakukan oleh perusahaan-perusahaan farmasi. Ia mencontohkan penemuan alat kesehatan terbaru dan pengembangan obat-obatan seiring dengan kebutuhan akan berbagai penyakit di dunia saat ini yang sangat tinggi.

“Menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan blockchain akan menumbuhkan sektor farmasi,” imbuhnya.

Pengembangan obat baru, walaupun berbiaya tinggi, bisa memiliki peluang yang sangat besar apabila perusahaan farmasi masuk ke ranah tersebut. Dari sisi investasi, sektor ini juga bisa memberikan dividen khususnya untuk portofolio jangka panjang.

“(Emiten) farmasi masih sangat menarik, menjanjikan dan bisa disimpan untuk long term. Secara keseluruhan sektor ini masih dipandang positif, potensinya tinggi sehingga wajar jika banyak investor yang melirik untuk mengkoleksi.” terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×